👨‍🦳

Ayah yang Tidak Pernah Berhenti Berharap

Kisah Nabi Ya'qub 'alaihissalam

🔢 Cerita ke-10 dari 25🕌 Cerita Nabi & Rasul🎂 7–10 tahun⏱️ 10 menit🧒 Nabi Ya'qub

Nabi Ya'qub adalah anak dari Nabi Ishaq, dan cucu dari Nabi Ibrahim. Ia juga dikenal dengan nama Israil, dan dari keturunannya lahirlah Bani Israil, kaum yang banyak melahirkan nabi-nabi setelahnya.

Nabi Ya'qub dikaruniai dua belas orang anak. Di antara mereka, ada dua anak dari istri yang sangat ia cintai: Yusuf dan adiknya, Binyamin. Nabi Ya'qub menyayangi semua anaknya, tetapi kasihnya kepada Yusuf terasa sangat besar.

Bukan karena Yusuf anak yang paling tampan atau paling kuat, tetapi karena Nabi Ya'qub melihat tanda-tanda kebaikan yang luar biasa pada anak itu. Yusuf sejak kecil sangat jujur, sangat sopan, dan sangat menjaga hatinya.

Suatu malam, Yusuf datang kepada ayahnya dan bercerita, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, semuanya bersujud kepadaku.”

Nabi Ya'qub langsung mengerti bahwa mimpinya bukan mimpi biasa. Para nabi tahu bahwa mimpi seperti itu adalah kabar dari Allah. Tetapi ia juga langsung tahu bahaya apa yang mungkin datang kepada anaknya.

“Wahai anakku,” katanya, “janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, karena mereka akan berbuat tipu daya kepadamu. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”

Nabi Ya'qub memberi nasihat itu bukan karena ia tidak sayang kepada anak-anaknya yang lain. Ia tahu bahwa di dalam hati manusia ada rasa iri, dan rasa iri bisa membuat orang melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun rahasia itu bocor, dan rasa iri itu tumbuh. Saudara-saudara Yusuf berunding, lalu membawa Yusuf pergi dengan alasan mengajaknya bermain. Mereka membuang Yusuf ke dalam sumur yang gelap.

Sorenya, mereka kembali kepada ayah mereka dengan tangis yang dibuat-buat. Mereka membawa baju Yusuf yang berlumuran darah palsu, dan berkata, “Ayah, Yusuf diterkam serigala ketika kami berlomba lari.”

Nabi Ya'qub melihat baju itu. Ia melihat darahnya. Dan ia tahu bahwa anak-anaknya berbohong. Sebab serigala tidak menelan baju. Serigala tidak merobek baju dengan cara seperti itu. Tetapi ia tidak bertengkar, dan ia tidak menghukum.

Ia hanya berkata, “Sebenarnya hawa nafsumu telah membuat kamu melakukan sesuatu. Maka kesabaran yang baik itulah yang paling pantas bagiku.”

👨‍🦳🕳️🧥
"Sebenarnya hawa nafsumu yang membuat kamu melakukan ini"

Nabi Ya'qub tidak kehilangan harapan sedikit pun. Ia tidak berkata bahwa Yusuf sudah mati. Ia menyebut Yusuf dengan harapan bahwa suatu hari mereka akan bertemu lagi. Ia menunggu, dan ia terus menunggu.

Bertahun-tahun berlalu. Nabi Ya'qub menua. Lalu datang ujian kedua: Binyamin, anak yang paling ia sayangi setelah Yusuf, ikut pergi bersama saudara-saudaranya ke negeri Mesir, dan tidak kembali. Nabi Ya'qub kehilangan dua anak sekaligus.

Kesedihannya sangat dalam. Ia menangis sampai matanya memutih, dan ia menjadi buta. Sampai-sampai anak-anaknya berkata, “Demi Allah, engkau terus mengingat Yusuf sampai engkau menjadi sakit parah atau mati.”

Tetapi Nabi Ya'qub menjawab dengan kalimat yang tidak akan pernah dilupakan, “Aku hanya mengadukan kesusahanku dan kesedihanku kepada Allah. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Ia tidak mengeluh kepada manusia. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya mengadu kepada Allah, dan ia tetap berharap, walaupun harapan itu terasa sangat jauh.

Betapa berat yang ia tanggung: kehilangan anak, dibohongi anak-anak, menjadi buta, dan hidup bertahun-tahun dalam ketidakpastian. Tetapi kesabarannya tidak pernah berubah menjadi keputusasaan.

Di negeri Mesir, Yusuf yang sudah menjadi pejabat tinggi meminta saudara-saudaranya membawa baju miliknya kepada ayah mereka. Setelah baju itu disembulkan ke wajah Nabi Ya'qub, penglihatannya kembali. Ia melihat lagi.

Nabi Ya'qub dan keluarganya berangkat ke Mesir. Dan di sana, setelah puluhan tahun, ia bertemu kembali dengan anak yang ia cari. Yusuf datang menjemputnya.

Ketika mereka berkumpul, Yusuf berkata kepada kedua orang tuanya, “Masuklah ke Mesir, insya Allah, dalam keadaan aman.” Ia kemudian mengangkat kedua orang tua dan keluarganya, dan mereka semua sujud syukur kepada Allah.

Dan Yusuf menutup kisah itu dengan sebuah penjelasan atas mimpinya dahulu: bahwa Allah telah menjadikannya orang yang berkuasa di negeri itu, dan telah mengeluarkannya dari penjara, lalu mendatangkan keluarganya dari pedalaman. Semua itu terjadi karena Allah, bukan karena siapa-siapa.

Nabi Ya'qub wafat setelah bertemu anak-anaknya. Tetapi ia meninggalkan satu pelajaran yang lebih besar daripada hartanya: seorang ayah yang bertahun-tahun tidak pernah berhenti berharap kepada Allah.

🧡 Hikmat Cerita

Nabi Ya'qub tidak pernah berhenti berharap, meskipun bertahun-tahun ia kehilangan dan disakiti oleh anak-anaknya sendiri. Kesabarannya bukan sabar yang diam dan pahit, melainkan sabar yang tetap mengadu hanya kepada Allah. Dan pada akhirnya, Allah mempertemukannya kembali dengan anak yang ia cari, ketika harapan itu sudah terasa sangat jauh.

Yang bisa kita ambil

  • 1Sabar yang baik adalah sabar yang tidak disertai keluhan kepada manusia dan tidak disertai keputusasaan.
  • 2Rasa iri bisa masuk ke dalam hati siapa saja, bahkan ke dalam satu keluarga. Jagalah hatimu dari iri.
  • 3Jangan putus harapan kepada Allah, walaupun keadaan tampak sangat mustahil.
  • 4Setelah kesulitan yang panjang, Allah menyiapkan pertemuan yang menyenangkan bagi orang yang sabar.
✨ Sabar✨ Tidak berputus asa✨ Memaafkan

💛 Pesan Kebaikan

Kalau kamu sedang menunggu atau kehilangan sesuatu, jangan berhenti berharap. Nabi Ya'qub menunggu bertahun-tahun, dan pertemuan itu akhirnya datang ketika ia sudah tidak mengharapkannya lagi.

🔍 Fakta Seru

Nama "Israil" yang sering disebut dalam Al-Qur'an adalah sebutan lain untuk Nabi Ya'qub. Karena itu, keturunan beliau disebut Bani Israil.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Coba latihan bersabar: pilih satu hal kecil yang ingin sekali kamu lakukan, lalu tunda sampai satu jam. Isi waktunya dengan hal yang berguna, seperti merapikan kamar atau membaca. Rasakan bahwa menunggu itu bisa dilatih.

📖 Sumber Cerita

QS. Yusuf 1–101 dan QS. Al-Baqarah 132–133

Ayat-ayat di atas adalah pokok ceritanya. Percakapan, suasana, dan perasaan tokoh ditulis sebagai gaya bercerita untuk anak. Kalau ada nama atau perincian yang hanya disebutkan dalam riwayat, di dalam cerita diberi penanda “para ulama menuturkan” atau “dikenal dalam riwayat”.