Nabi Yahya adalah anak dari Nabi Zakaria, yang lahir ketika ayahnya sudah sangat tua. Kelahirannya adalah jawaban atas doa yang panjang, dan Allah sendiri yang memilih namanya.
Sejak kecil, Yahya sudah berbeda. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Allah memberinya hukum dan ilmu ketika ia masih anak-anak. Ia belum dewasa, tetapi ia sudah mengerti, dan ia sudah mau belajar.
Allah memanggilnya dengan panggilan yang penuh kasih sayang, “Hai Yahya, ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh.” Bayangkan: seorang anak kecil dipanggil oleh Tuhannya, dan diminta memegang kitab dengan sepenuh hati.
“Hai Yahya, ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika dia masih anak-anak.”
QS. Maryam: 12
“Dengan sungguh-sungguh” berarti bukan sekadar membaca, bukan sekadar menghafal untuk mendapat pujian, tetapi mempelajarinya dengan hati yang benar dan mengamalkannya dalam perbuatan sehari-hari.
Yahya melakukan itu. Ia mempelajari kitab Taurat dengan tekun, ia mengamalkannya, dan ia mengajarkannya kepada orang lain. Dan ia melakukannya sejak kecil, bukan setelah ia besar.
Allah menyebutkan lima sifat Yahya di dalam Al-Qur'an. Pertama, ia lembut hatinya dan penuh kasih. Kedua, ia bersih hatinya dan menjaga dirinya. Ketiga, ia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Keempat, ia tidak sombong. Kelima, ia tidak pernah membangkang.
Perhatikan bahwa yang dipuji bukan kecerdasannya, bukan kekayaannya, dan bukan kekuatannya. Yang Allah puji adalah hatinya dan akhlaknya. Itulah tanda bahwa yang paling berharga di sisi Allah adalah sifat, bukan penampilan.
Yahya tidak sombong walaupun ia seorang nabi, dan walaupun ayahnya juga seorang nabi. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia juga tidak pernah membangkang kepada orang tuanya, padahal ia menerima wahyu langsung dari Allah.
Ia juga sangat berani mengatakan kebenaran. Nabi Yahya dikenal sebagai orang yang tidak takut menyampaikan apa yang benar, walaupun kebenaran itu tidak disukai oleh orang-orang yang berkuasa.
Keberaniannya itu tidak disukai sebagian orang. Orang yang merasa terganggu oleh kebenaran memang sering tidak suka kepada orang yang menyampaikannya.
Keberanian berkata benar itu bukan berarti berbicara kasar. Nabi Yahya tetap lembut, tetap sopan, dan tetap menghormati orang yang diajak bicara. Yang ia pertahankan adalah isi ucapannya, bukan cara menyampaikannya dengan keras.
Ia juga tidak memikirkan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Ia tahu bahwa kebenaran yang ia sampaikan tidak disukai oleh sebagian orang. Tetapi ia tetap mengatakannya, karena baginya menyembunyikan kebenaran itu jauh lebih berat daripada menanggung akibatnya.
Dan Allah meninggikan namanya. Sampai hari ini, nama Yahya disebut di dalam Al-Qur'an, dibaca oleh jutaan orang setiap hari. Nama orang-orang yang dulu menolaknya tidak dicatat, tidak dikenal, dan tidak diingat siapa pun.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa Yahya menjalani hidupnya dengan bersih. Dan ketika Allah menceritakan tentang dirinya, Allah memberikan penghormatan yang indah: kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia wafat, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia wafat, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” Itu kalimat yang sangat indah, dan hanya sedikit orang yang mendapat penghormatan seperti itu di dalam Al-Qur'an.
Jadi bagaimana kita meneladani Yahya, padahal kita bukan nabi? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Belajar dengan sungguh-sungguh sejak kecil. Berbicara jujur walaupun tidak enak. Berbakti kepada ayah dan bunda. Dan tidak sombong dengan apa yang kita punya.
Yang paling menakjubkan dari Yahya adalah bahwa ia melakukannya sejak kecil. Ia tidak menunggu sampai besar untuk menjadi baik. Dan itu pesan yang penting untuk kita semua: kebaikan tidak perlu ditunda sampai kita dewasa.
🧡 Hikmat Cerita
Nabi Yahya diberi ilmu sejak kecil, dan ia memakainya dengan benar. Al-Qur'an memujinya bukan karena kecerdasannya, melainkan karena hatinya yang lembut, kesucian dirinya, baktinya kepada orang tua, serta kerendahan hatinya. Kisahnya mengajarkan bahwa menjadi baik itu bisa dimulai sekarang, tanpa perlu menunggu dewasa.
Yang bisa kita ambil
- 1Belajar itu bisa dimulai sejak kecil, dan belajar yang sungguh-sungguh bukan sekadar hafal.
- 2Yang paling berharga di sisi Allah adalah akhlak, bukan kepandaian semata.
- 3Berbakti kepada orang tua adalah sifat para nabi.
- 4Jangan sombong. Yahya seorang nabi, tetapi tidak pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain.