Nabi Zakaria adalah seorang nabi dari Bani Israil. Ia juga seorang yang sangat dihormati karena ilmunya dan karena kesalehannya. Ketika Maryam — anak dari Imran — lahir, Nabi Zakaria diangkat menjadi pengasuhnya.
Maryam tumbuh di dalam lingkungan ibadah. Ia ditempatkan di sebuah ruang khusus untuk beribadah, dan Nabi Zakaria selalu memeriksanya setiap hari untuk memastikan keadaannya baik.
Ada satu hal yang membuat Nabi Zakaria takjub. Setiap kali ia masuk ke ruang itu, ia selalu menemukan makanan di sana. Buah-buahan yang tidak ada di musimnya, makanan yang tidak ia bawa, dan rezeki yang datang tanpa ia ketahui dari mana asalnya.
“Hai Maryam,” tanyanya, “dari mana kamu memperoleh ini?”
Maryam menjawab dengan kalimat yang sangat sederhana, “Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
Maryam, QS. Ali Imran: 37
Jawaban itu mengguncang hati Nabi Zakaria. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Allah memberi rezeki tanpa batas dan tanpa sebab yang bisa dihitung manusia. Kalau Allah bisa memberi Maryam makanan dari tempat yang tidak diketahui, tentu Allah juga bisa memberinya anak walaupun ia sudah tua.
Sebab Nabi Zakaria punya satu kerinduan yang belum terpenuhi: ia belum dikaruniai anak. Usianya sudah sangat lanjut, dan istrinya sudah lama tidak bisa mengandung. Menurut hitungan manusia, harapan itu sudah habis sejak lama.
Maka di dalam ruang ibadah itu, Nabi Zakaria mengangkat tangannya dan berdoa dengan suara yang pelan. Ia tidak berteriak, tetapi ia juga tidak berhenti. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”
Perhatikan kalimat terakhir itu: “aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.” Selama bertahun-tahun ia berdoa, dan ia tidak pernah merasa bahwa doanya sia-sia. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah berhenti.
Ia juga menyebutkan alasannya meminta anak, dan alasannya bukan untuk membanggakan diri. Ia takut bahwa setelah ia wafat tidak ada yang melanjutkan ilmunya dan mengajak orang kepada kebaikan. Ia berkata, “Dan aku khawatir terhadap kerabat-kerabatku sepeninggalku.”
Allah mengabulkan doanya. Ketika ia sedang berdiri beribadah di ruang ibadahnya, datanglah malaikat dan memanggilnya, “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya tidak pernah Kami namai dengan nama itu.”
Nabi Zakaria terkejut sekali. “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, sedang istriku tidak dapat melahirkan dan aku sudah sangat tua?”
Malaikat itu menjawab, “Demikianlah, Allah berfirman, 'Hal itu mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya Aku telah menciptakanmu sebelum ini, padahal kamu belum ada sama sekali.'”
Jawaban itu adalah jawaban yang paling menenangkan. Kalau Allah menciptakan seseorang dari ketiadaan, tentu mudah bagi-Nya menciptakan anak dari orang tua yang sudah lanjut usia.
Nabi Zakaria meminta satu tanda, supaya hatinya tenang. Maka Allah memberinya tanda: ia tidak akan berbicara kepada manusia selama tiga malam, padahal ia sehat. Sebagai gantinya, ia diperintahkan memperbanyak pujian kepada Allah.
Maka Nabi Zakaria keluar dari ruang ibadahnya dan menemui kaumnya. Ia tidak berbicara, tetapi ia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbih pada pagi dan petang. Selama tiga malam, ia hanya memuji Allah dengan hatinya dan lisannya, tanpa berbicara kepada manusia.
Benarlah janji Allah. Yahya lahir, dan menjadi seorang nabi yang diberi ilmu sejak kecil. Nabi Zakaria melihat anaknya tumbuh menjadi orang yang saleh, dan itu adalah hadiah terbesar bagi seorang ayah yang sudah tua.
Nabi Zakaria wafat, tetapi ia meninggalkan dua hal yang tidak akan pernah mati: seorang anak yang melanjutkan dakwahnya, dan sebuah doa yang tidak pernah berhenti, yang dicatat di dalam Al-Qur'an sampai akhir zaman.
🧡 Hikmat Cerita
Nabi Zakaria berdoa bertahun-tahun untuk sesuatu yang menurut hitungan manusia mustahil. Yang membuatnya istimewa bukan panjangnya doa itu, melainkan bahwa ia tidak pernah merasa kecewa kepada Allah. Kisahnya juga mengingatkan bahwa rezeki dan karunia Allah tidak tunduk pada hitungan manusia: Maryam mendapat makanan dari tempat yang tidak diketahui, dan Zakaria mendapat anak di usia yang sangat lanjut.
Yang bisa kita ambil
- 1Jangan pernah berhenti berdoa, walaupun jawabannya belum datang bertahun-tahun.
- 2Jangan hitung kemampuanmu sendiri untuk menilai apa yang mungkin. Hitunglah kemurahan Allah.
- 3Berdoalah juga untuk hal yang berguna bagi orang lain, bukan hanya untuk kesenangan diri sendiri.
- 4Anak yang saleh adalah hadiah yang paling berharga bagi orang tua.