Maryam adalah anak dari Imran, seorang perempuan yang Allah pilih dan sucikan di antara seluruh perempuan di dunia. Sejak kecil, ia hidup dalam ibadah dan selalu menjaga dirinya.
Suatu hari, ketika Maryam sedang menyendiri di tempat ibadahnya, datanglah malaikat Jibril dalam wujud seorang laki-laki yang tampan. Maryam sangat terkejut dan langsung berlindung kepada Allah.
“Sesungguhnya aku berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih darimu, jika kamu seorang yang bertakwa,” katanya.
Malaikat itu menjawab, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan bahwa engkau akan diberi seorang anak laki-laki yang suci.”
Maryam terkejut dan bertanya, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku, dan aku bukan perempuan yang tidak baik?”
Malaikat itu menjawab dengan kalimat yang sama seperti yang diucapkan kepada Nabi Zakaria, “Demikianlah, Tuhanmu berfirman, 'Hal itu mudah bagi-Ku'. Dan agar Kami menjadikannya tanda bagi manusia dan rahmat dari Kami. Dan hal itu sudah ditetapkan.”
Maka Maryam mengandung anak itu. Ia mengandungnya dengan izin Allah, tanpa seorang ayah. Dan ketika waktu kelahirannya semakin dekat, ia merasa sangat berat, baik secara fisik maupun karena ia tahu bagaimana orang-orang akan berbicara tentang dirinya.
Ia pergi ke tempat yang jauh dari kaumnya, sampai ke sebuah tempat di dekat pohon kurma. Di sana rasa sakit melahirkan datang, dan ia bersandar pada batang pohon itu.
Dalam kesakitan dan kesedihannya, Maryam berkata, “Aduhai, kiranya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali.”
Lalu ia mendengar suara memanggilnya dari arah bawah, “Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang segar untukmu.”
Maryam menggerakkan pohon kurma itu, dan benar saja, kurma-kurma segar berjatuhan. Ia makan, dan ia minum dari anak sungai yang mengalir di bawahnya. Allah memberi makan dan minum kepada perempuan yang sedang kesakitan dan ketakutan — itu tanda bahwa Allah tidak membiarkannya sendiri.
Setelah bayinya lahir, Maryam membawanya kembali kepada kaumnya. Benar seperti yang ia khawatirkan, mereka langsung menuduhnya dengan tuduhan yang buruk. Mereka berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang sangat keji!”
Maryam tidak membela diri. Ia tidak berdebat. Ia tidak mengucapkan satu kata pun. Ia hanya membuat isyarat kepada bayinya, meminta mereka berbicara kepada anak itu.
Kaumnya makin heran. “Bagaimana mungkin kami berbicara kepada anak yang masih berada dalam buaian?”
Dan kemudian terjadi sesuatu yang membuat semua orang terdiam. Bayi itu berbicara dengan suara yang jelas:
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk menunaikan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup.”
QS. Maryam: 30–31
Bayi yang baru beberapa hari lahir berbicara, dan ia menyebutkan dirinya sebagai hamba Allah, bukan tuhan dan bukan anak tuhan. Ia menyebutkan bahwa ia diperintahkan salat dan zakat, dan bahwa ia diperintahkan berbakti kepada ibunya.
Semua tuduhan itu pun gugur dalam sekejap. Allah sendiri yang membersihkan nama Maryam, dan Allah sendiri yang memperkenalkan anaknya. Tidak perlu pembelaan dari manusia, karena Allah adalah sebaik-baik pembela.
Isa tumbuh menjadi seorang nabi. Allah memberinya kitab Injil dan memberinya banyak mukjizat, semuanya dengan izin Allah. Ia bisa menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang yang sakit kulit, dan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal — semuanya dengan izin Allah, bukan dengan kekuatannya sendiri.
Ia juga pernah membuat sesuatu dari tanah yang berbentuk seperti burung, lalu menghembuskannya, dan burung itu terbang dengan izin Allah. Semua mukjizat itu adalah bukti kenabiannya, dan Al-Qur'an menegaskan bahwa semuanya terjadi dengan izin Allah.
Allah menyebutkan bahwa Isa dijadikan sebagai tanda bagi seluruh manusia, dan sebagai rahmat dari-Nya. Ia dihormati, dan Al-Qur'an menegaskan bahwa ia bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan, melainkan seorang hamba Allah yang mulia, sebagaimana ia sendiri mengatakan ketika ia masih bayi itu.
🧡 Hikmat Cerita
Kisah Nabi Isa mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh sebab-sebab yang biasa. Maryam mengandung tanpa ayah, dan seorang bayi berbicara untuk membersihkan nama ibunya. Keduanya adalah tanda bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Yang penting untuk diingat adalah perkataan bayi itu sendiri: bahwa ia adalah hamba Allah, bukan Tuhan.
Yang bisa kita ambil
- 1Allah tidak terikat oleh sebab-sebab yang biasa. Dia berbuat sesuai kehendak-Nya.
- 2Perkataan Isa sendiri menegaskan bahwa ia hamba Allah. Seorang muslim menghormatinya sebagai nabi, bukan menyembahnya.
- 3Jangan buruk sangka kepada orang yang kita tidak ketahui keadaannya. Maryam dituduh, padahal ia suci.
- 4Semua mukjizat terjadi dengan izin Allah. Tidak ada yang bisa melakukannya dengan kekuatan sendiri.