Nabi Nuh tinggal di negeri yang penduduknya menyembah patung. Patung batu, patung kayu, patung yang tidak bisa bicara dan tidak bisa menolong siapa pun. Mereka menyembah benda yang dibuat oleh tangan mereka sendiri.
Nabi Nuh mengajak mereka menyembah Allah. Ia mengajak siang, mengajak malam, mengajak dengan suara lembut, mengajak dengan suara keras. Ia mengajak secara terbuka di pasar, dan secara diam-diam di depan pintu rumah mereka.
Ia mengajak selama bertahun-tahun. Bukan sepuluh tahun. Bukan lima puluh tahun. Ratusan tahun. Rambutnya memutih, punggungnya mulai membungkuk, dan kulitnya berkerut. Tapi yang mau mendengar hanya sedikit sekali. Itu pun kebanyakan orang miskin dan orang-orang lemah, yang menurut orang kaya “tidak penting”.
Orang-orang malah mengejeknya. “Nuh, kamu ini sudah gila!” kata mereka sambil tertawa. “Sejak kapan kamu jadi tukang kayu?” Ada yang menutup telinga. Ada yang melempar batu kecil. Ada yang berteriak supaya ia berhenti.
Nabi Nuh tidak marah. Ia hanya menghela napas dan berkata, “Ya Tuhanku, sungguh aku telah mengajak kaumku siang dan malam, tetapi mereka hanya lari semakin jauh.”
Lalu Allah memerintahkan sesuatu yang sangat aneh: “Buatlah kapal dengan pengawasan dan petunjuk-Ku.”
Kapal? Di tengah padang? Di situ tidak ada laut, tidak ada sungai besar, tidak ada genangan air sama sekali! Kalau kamu disuruh membuat perahu di tengah lapangan bola, kamu pasti bingung juga, kan?
Orang-orang makin menertawakan Nabi Nuh. Setiap kali mereka lewat, mereka bertanya, “Nuh, kapalnya mau dipakai di mana? Di kolam? Mau mengarungi pasir?” Ada juga yang berteriak, “Nuh, kamu sudah tua dan mulai lupa jalan pulang!”
Nabi Nuh hanya tersenyum dan terus memalu paku. Papan demi papan. Hari demi hari. Ia menebang pohon, memotongnya, menyusunnya, dan menambalnya dengan serat. Kapal itu tumbuh makin besar: setinggi rumah, panjang sekali, seperti gedung yang bersiap berjalan.
Ketika kapal itu selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh membawa keluarganya dan hewan-hewan berpasangan. Dua unta, dua kucing, dua kambing, dua semut, dua kupu-kupu. Bicara soal semut... siapa yang menghitungnya, ya? Allah yang tahu jumlahnya.
Orang-orang yang lewat masih tertawa. “Hewan-hewan itu mau kamu apakan? Mau kamu ajak piknik di pasir?”
Lalu langit terbuka. Hujan turun sangat deras, dan bukan hanya dari atas — air juga memancar dari dalam bumi. Air naik, naik, dan naik lagi. Ia menutupi jalan, menutupi rumah, menutupi kebun, sampai menutupi bukit dan gunung yang paling tinggi.
Orang-orang yang tadi menertawakan Nabi Nuh mulai berlari mencari tempat tinggi. Mereka berteriak, mereka memanggil-manggil nama Nabi Nuh. Tapi sudah terlambat.
Kapal Nabi Nuh terapung di atas ombak besar. Di luar bergelora dan berdebur, tapi di dalam kapal semuanya aman dan tenang. Air itu bahkan mengangkat kapal itu melewati puncak-puncak gunung.
Ada satu hal yang membuat hati Nabi Nuh sedih sekali. Anaknya sendiri tidak mau ikut naik kapal. Namanya Kan'an. Nabi Nuh memanggilnya dengan penuh sayang, “Wahai anakku, naiklah bersama kami. Jangan tinggal bersama orang-orang yang tidak mau percaya.”
Kan'an menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang tinggi.” Nabi Nuh berkata, “Hari ini tidak ada sesuatu pun yang bisa melindungi dari perintah Allah, kecuali Allah sendiri.”
Lalu gelombang besar memisahkan mereka. Nabi Nuh memanggil sekali lagi, tapi jawabannya hanya suara air. Nabi Nuh sangat sedih. Ia sudah menasihati anaknya dengan sangat sayang, berkali-kali, selama bertahun-tahun. Tapi hati manusia bukan milik ayahnya. Hati manusia adalah urusan Allah.
Setelah hujan reda dan perintah Allah datang, Nabi Nuh melepas seekor burung. Burung itu terbang jauh... lalu kembali. Berarti belum ada daratan. Ia melepasnya sekali lagi. Kali ini burung itu tidak kembali. Alhamdulillah, ada tanah yang sudah muncul di kejauhan!
Kapal itu berhenti di sebuah tempat yang tinggi. Nabi Nuh dan semua yang bersamanya turun dengan selamat. Hewan-hewan keluar satu per satu, mengibaskan tubuh mereka yang basah, lalu berlari mencari makan.
Mereka memulai kehidupan baru di bumi yang sudah bersih kembali. Nabi Nuh terus mengajari manusia selama bertahun-tahun setelah itu. Ia tidak pernah berhenti menasihati dengan cara yang baik.
🧡 Hikmat Cerita
Kisah Nabi Nuh adalah pelajaran terbesar tentang kesabaran. Beliau mengajak manusia selama ratusan tahun dan tetap tidak berhenti, bahkan ketika diejek dan ditertawakan. Allah menolongnya bukan pada percobaan pertama, bukan pada tahun pertama, tetapi pada waktu yang Allah tentukan sendiri. Kapal itu bukti bahwa pertolongan Allah datang bagi orang yang tetap bekerja sambil berdoa.
Yang bisa kita ambil
- 1Sabar itu bukan menunggu tanpa berbuat apa-apa. Nabi Nuh menunggu sambil terus memalu paku.
- 2Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena banyak orang menertawakan kita.
- 3Setiap orang bertanggung jawab atas hatinya sendiri. Nabi Nuh sudah menasihati, tetapi hidayah adalah hak Allah.
- 4Tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dengan cara yang lembut, bukan memaksa orang berubah.