Di tanah yang luas dan berpasir, hiduplah satu kaum yang bernama kaum 'Ad. Mereka tinggal di negeri yang subur, dengan kebun-kebun, mata air, dan ternak yang banyak. Allah memberikan mereka negeri yang bagus dan kehidupan yang mudah.
Dan Allah juga memberi mereka sesuatu yang membuat mereka terkenal di seluruh negeri: tubuh yang tinggi besar dan tenaga yang sangat kuat. Anak-anak mereka tumbuh seperti pohon. Laki-lakinya bisa mengangkat beban yang tidak sanggup diangkat orang lain.
Karena itu, mereka menjadi kaum yang paling pandai membangun. Mereka membuat gedung-gedung tinggi, pilar-pilar besar, dan istana yang menjulang. Orang-orang yang lewat berhenti dan berkata, “Siapa yang bisa membangun seperti mereka?”
Semua itu adalah nikmat dari Allah. Semestinya mereka berterima kasih kepada Pemberi nikmat itu. Tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka justru menyembah patung, sama seperti nenek moyang mereka dahulu.
Dan yang paling berbahaya, mereka mulai merasa bahwa kekuatan itu milik mereka sendiri. Mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat daripada kami?” Mereka menyebutnya dengan bangga, bukan sebagai pertanyaan, tetapi sebagai kesombongan.
Allah mengutus seorang nabi kepada mereka dari kalangan mereka sendiri. Namanya Hud. Ia adalah orang yang mereka kenal, anak dari keluarga mereka, dan sejak kecil ia terkenal jujur serta sabar. Bukan orang asing, bukan orang yang tiba-tiba muncul.
“Wahai kaumku,” kata Nabi Hud, “sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”
Ia mengingatkan mereka dengan lembut. Ia tidak menghina kekuatan mereka. Ia justru berkata, “Ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti orang-orang sebelum kamu, dan Allah melebihkan kamu dalam kekuatan tubuh. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu beruntung.”
Kata-kata itu sebenarnya indah. Nabi Hud sedang berkata: kekuatanmu itu pemberian, bukan buatanmu sendiri. Kalau kamu sadar itu, kamu akan bersyukur. Kalau kamu bersyukur, hidupmu akan aman.
Tetapi kaum 'Ad menolak. Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami supaya kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami? Kalau kamu benar, datangkan saja azab yang kamu ancamkan itu!”
Mereka juga menuduh Nabi Hud gila dan mengatakan bahwa patung-patung mereka telah menimpakan kutukan kepadanya. Padahal Nabi Hud sama sekali tidak gila. Ia hanya seorang yang menyampaikan kebenaran dengan jelas dan sopan.
Nabi Hud tidak marah. Ia menjawab dengan tenang, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah olehmu, bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Maka tangkaplah aku semuanya, dan jangan beri tangguh kepadaku.”
Lalu datanglah azab itu, dan bentuknya bukan seperti yang mereka bayangkan. Bukan gempa, bukan banjir, melainkan angin yang sangat dingin dan sangat kencang.
Allah mengirimkan angin itu selama tujuh malam dan delapan hari tanpa henti. Angin itu mencabut manusia seperti batang pohon yang tumbang, dan mencerabut bangunan-bangunan tinggi yang mereka banggakan. Gedung-gedung itu ternyata tidak bisa menolong mereka sama sekali.
Apa yang mereka sombongkan justru menjadi bukti bahwa mereka tidak berdaya. Tubuh yang besar, tenaga yang kuat, bangunan yang menjulang — semuanya tidak sanggup menahan satu perintah dari Allah.
Nabi Hud dan orang-orang yang beriman bersama beliau diselamatkan Allah dengan rahmat-Nya. Mereka keluar dari negeri itu dan melanjutkan hidup, sementara kaum 'Ad tinggal sebagai cerita yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Nama kaum 'Ad tetap disebut sampai hari ini, dan setiap kali dibaca, pesannya selalu sama: kekuatan tanpa rasa syukur akan membawa kepada kehancuran, dan kesombongan adalah pintu menuju kerugian yang besar.
🧡 Hikmat Cerita
Kaum 'Ad bukan kaum yang lemah, melainkan kaum yang paling kuat pada zamannya. Justru karena itu ceritanya penting: kekuatan tidak bisa melindungi seseorang dari akibat kesombongannya sendiri. Nabi Hud mengajarkan bahwa nikmat — termasuk kesehatan dan tenaga yang kita miliki — harus disyukuri, bukan dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Yang bisa kita ambil
- 1Kepandaian, kekuatan, dan kelebihan adalah pemberian Allah, bukan buatan kita sendiri.
- 2Menyombongkan kelebihan sendiri adalah tanda bahwa kita lupa siapa yang memberikannya.
- 3Harta dan bangunan tidak bisa menolong pemiliknya kalau Allah berkehendak lain.
- 4Beranilah menyampaikan kebenaran dengan sopan, walaupun yang kita hadapi lebih kuat.