✍️

Nabi yang Rajin Menulis dan Menjahit

Kisah Nabi Idris 'alaihissalam

🔢 Cerita ke-2 dari 25🕌 Cerita Nabi & Rasul🎂 5–10 tahun⏱️ 9 menit🧒 Nabi Idris

Nabi Idris adalah salah satu nabi yang namanya disebutkan di dalam Al-Qur'an. Allah memujinya dengan dua kalimat yang indah: bahwa ia sangat mencintai kebenaran, dan bahwa ia seorang nabi yang sabar.

Sejak kecil, Idris berbeda dari anak-anak lain. Anak-anak lain lebih suka bermain sepanjang hari, dan itu tidak apa-apa. Tetapi Idris selalu ingin tahu. Kalau melihat sesuatu, ia bertanya. Kalau mendapat jawaban, ia bertanya lagi. Pertanyaannya tidak pernah habis.

“Kenapa bintang bergerak?” “Kenapa air mengalir ke bawah?” “Kenapa kambing makan rumput dan bukan batu?” Orang dewasa kadang bingung menjawabnya. Tapi Idris tidak bertanya untuk menyusahkan. Ia bertanya karena ia ingin mengerti dunia yang Allah ciptakan.

Yang paling membuat Idris kagum adalah manusia itu sendiri. Ia melihat tangannya, lalu berpikir: tangan ini bisa apa? Bisa mengangkat. Bisa memegang. Bisa... membuat sesuatu.

Pada zaman itu, manusia belum mengenal tulisan. Kalau ada cerita atau pelajaran penting, orang harus menghafalnya. Dan hafalan bisa hilang. Kalau orang yang hafal meninggal, ilmunya ikut hilang. Bayangkan kalau semua pelajaran di sekolahmu hanya boleh dihafal, tidak boleh ditulis. Pasti susah sekali, kan?

Para ulama menuturkan bahwa Idris adalah orang pertama yang menulis dengan pena, dan bahwa Allah mengajarkan ilmu itu kepadanya. Idris pun mengajarkannya kepada manusia. Sejak saat itu, ilmu bisa disimpan. Cerita bisa diwariskan. Pesan bisa dikirim. Buku-buku yang kamu baca sekarang, semuanya dimulai dari satu orang yang mau belajar menulis.

✍️📜💡
Ilmu yang ditulis tidak akan hilang

Tetapi Idris tidak berhenti di menulis saja. Para ulama juga menuturkan bahwa ia mengajarkan cara menjahit pakaian. Sebelum itu, manusia menutupi tubuh mereka dengan kulit binatang yang kasar dan tidak nyaman. Dengan jarum dan benang, manusia bisa membuat pakaian yang pas di badan, hangat, dan rapi.

Idris bekerja dengan tangannya sendiri, dan ia tidak merasa pekerjaan itu rendah. Ia duduk di rumahnya, menusukkan jarum, menarik benang, dan mengulanginya ribuan kali.

Ia juga mengajarkan kepada manusia untuk tidak menyia-nyiakan apa yang mereka miliki. Kulit binatang yang tadinya dibuang, bisa dijadikan pakaian. Batu yang tadinya hanya diam di tanah, bisa dijadikan alat. Semua itu berkat ilmu dan kerja.

Jadi Nabi Idris bukan hanya seorang yang rajin beribadah. Ia juga seorang guru, seorang pengrajin, dan seorang penemu cara. Ia menunjukkan bahwa iman dan ilmu bisa berjalan bersama, dan bahwa keduanya membuat hidup manusia menjadi lebih baik.

Ada satu kebiasaan Idris yang sangat indah. Setiap kali jarumnya menusuk kain, ia mengucapkan pujian kepada Allah. Setiap tarikan benang, satu kalimat syukur. Jadi bayangkan: sepanjang hari, rumahnya penuh dengan suara pujian yang pelan dan teratur, seperti hujan yang turun di atas daun.

Coba pikirkan. Pekerjaannya hanya menjahit. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Tetapi ia melakukannya dengan rapi, jujur, dan penuh syukur. Pekerjaan yang kecil, dikerjakan dengan hati yang besar.

Idris juga tidak suka membuang waktu. Kalau ia tidak sedang mengajar, ia sedang bekerja. Kalau tidak bekerja, ia sedang beribadah. Kalau tidak beribadah, ia sedang beristirahat supaya kuat untuk besok. Tidak ada satu jam pun yang terbuang. Padahal zamannya belum ada jam, belum ada jadwal, dan belum ada buku agenda. Ia mengatur waktunya sendiri, dan ia mengaturnya dengan baik.

Ia mengajak manusia untuk menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan buruk. Ada yang mau mendengar, ada juga yang menolak. Ada yang mengejek, ada yang melewatinya tanpa menoleh. Idris menghadapi semuanya dengan sabar, tanpa membalas, tanpa membentak, tanpa berhenti mengajak.

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut Idris sebagai orang yang sabar dan jujur, bersama Nabi Ismail dan Nabi Zulkifli. Ketiganya termasuk orang-orang yang dimasukkan ke dalam rahmat Allah. Pujian itu bukan pujian kecil, karena datang langsung dari Pencipta seluruh alam.

“Dan ceritakanlah kisah Idris di dalam Kitab. Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”

QS. Maryam: 56–57

Allah menyebutkan bahwa Idris diangkat ke tempat yang tinggi. Para ulama menjelaskan bahwa kedudukannya ditinggikan, dan namanya terus dikenang sepanjang zaman. Dan memang benar: sampai hari ini, jutaan orang menyebut nama Idris ketika membaca Al-Qur'an, ribuan tahun setelah ia meninggalkan dunia.

Sebuah ilmu yang diajarkan akan terus berguna walaupun yang mengajarkannya sudah tidak ada. Buku yang kamu pegang, tulisan yang kamu baca, pakaian yang kamu pakai — semuanya berawal dari orang-orang seperti Idris, yang mau belajar, lalu mau mengajarkan.

🧡 Hikmat Cerita

Nabi Idris mengajarkan bahwa belajar dan bekerja adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ia belajar menulis lalu mengajarkannya, ia belajar menjahit lalu menghidupi dirinya dengan jujur, dan ia mengisi setiap tarikan benang dengan pujian kepada Allah. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil kalau dikerjakan dengan hati yang bersyukur.

Yang bisa kita ambil

  • 1Rasa ingin tahu adalah awal dari semua ilmu. Jangan malu bertanya.
  • 2Ilmu yang tidak diajarkan akan berhenti gunanya. Ilmu yang dibagikan akan hidup terus.
  • 3Pekerjaan kecil pun bisa menjadi ibadah kalau dikerjakan dengan rapi, jujur, dan syukur.
  • 4Waktu itu berharga. Isi dengan hal yang berguna, agar tidak ada hari yang terbuang.
✨ Cinta ilmu✨ Rajin bekerja✨ Tidak menyia-siakan waktu

💛 Pesan Kebaikan

Belajarlah dengan rajin, lalu ajarkan kepada orang lain. Ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang, justru bertambah dan terus berguna sampai bertahun-tahun kemudian.

🔍 Fakta Seru

Pena dan jarum terdengar sederhana, tetapi keduanya mengubah hidup manusia. Dengan pena, ilmu bisa disimpan. Dengan jarum, pakaian bisa dibuat rapi. Dua benda kecil yang kita pakai sehari-hari adalah warisan dari zaman yang sangat lama.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Coba berlatih menjahit! Minta ayah atau bunda menyiapkan kain perca, jarum tumpul, dan benang. Jahit dua potong kain menjadi kantong kecil. Setiap tusukan, ucapkan satu pujian kepada Allah, seperti Nabi Idris.

📖 Sumber Cerita

QS. Maryam 56–57 dan QS. Al-Anbiya 85–86

Ayat-ayat di atas adalah pokok ceritanya. Percakapan, suasana, dan perasaan tokoh ditulis sebagai gaya bercerita untuk anak. Kalau ada nama atau perincian yang hanya disebutkan dalam riwayat, di dalam cerita diberi penanda “para ulama menuturkan” atau “dikenal dalam riwayat”.