🧺

Bayi dalam Keranjang

Kisah Nabi Musa 'alaihissalam

🔢 Cerita ke-14 dari 25🕌 Cerita Nabi & Rasul🎂 5–10 tahun⏱️ 9 menit🧒 Nabi Musa

Di Mesir hiduplah seorang raja yang sangat sombong. Namanya Firaun. Ia mengaku dirinya tuhan. Padahal ia hanya manusia biasa yang juga makan, juga tidur, dan juga pernah sakit gigi.

Firaun punya banyak prajurit dan banyak harta. Tapi harta yang banyak tidak bisa menghilangkan rasa takut. Firaun takut kehilangan kekuasaannya. Ia selalu merasa ada orang yang akan merebut tahtanya.

Suatu hari, seorang peramal berkata kepadanya, “Wahai Raja, akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang akan mengalahkanmu.” Sejak hari itu, Firaun tidak bisa tidur tenang.

Ia pun memerintahkan sesuatu yang sangat kejam: setiap bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh. Bayangkan, rumah-rumah di Mesir jadi sunyi. Ibu-ibu menangis diam-diam. Ayah-ayah menunduk takut.

Ibu Nabi Musa juga takut. Ia baru saja melahirkan bayi laki-laki yang lucu sekali. Matanya bulat, pipinya tembem, tangannya kecil dan suka menggenggam jari ibunya. Bayi itu diberi nama Musa.

Setiap kali ada suara prajurit lewat di depan rumah, jantung ibu Musa berdebar keras. Ia menyembunyikan bayinya di dalam lemari, di bawah tempat tidur, di balik tumpukan kain. Tapi ia tahu, ini tidak bisa terus begini.

Lalu Allah memberikan ide yang sangat menakjubkan kepada ibu Musa. Ia membuat keranjang kecil dari kayu, melapisinya dengan getah supaya tidak bocor, lalu menidurkan bayinya dengan sangat hati-hati. Ia mencium kening bayi itu lama sekali.

Ibu mana yang tega melakukan hal seperti itu? Meletakkan anaknya di atas air, lalu membiarkannya pergi entah ke mana? Ibu Musa melakukannya karena ia percaya penuh pada janji Allah. Allah sudah menjanjikan bahwa bayi itu akan kembali kepadanya.

🧺🌊👶
Keranjang kecil itu berlayar di sungai Nil

Keranjang itu berlayar di sungai Nil. Hanyut dibawa arus, melewati pohon-pohon besar, melewati perahu-perahu nelayan. Di tepi sungai, kakak perempuannya berjalan mengikuti dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat, tidak berani berteriak, hanya matanya yang terus mengawasi keranjang adiknya.

Sungai Nil mengalirkan keranjang itu sampai ke istana Firaun. Di sana ada kolam dan taman. Para pelayan istana menemukan keranjang itu dan membuka tutupnya. Di dalamnya ada seorang bayi yang sedang menangis dengan suara lucu.

Istri Firaun, Asiyah, datang menghampiri. Ia melihat bayi itu, lalu langsung jatuh cinta. “Jangan bunuh dia,” katanya kepada Firaun. “Biarlah ia menjadi anak kita. Mungkin dia akan berguna bagi kita.”

Jadi bayi itu dibesarkan di dalam istana raja yang paling ditakuti di dunia, dan raja itu sama sekali tidak tahu bahwa bayi inilah yang selama ini ia takuti. Ia mencium pipi bayi itu setiap pagi. Ia menggendongnya. Ia menyuruh pelayan menyiapkan susu. Lucu sekali, bukan?

Tapi ada satu masalah: bayi itu menolak semua ibu susu yang datang. Satu per satu perempuan didatangkan, satu per satu ia tolak. Ia menangis terus, sampai para pelayan istana bingung dan kehabisan akal.

Akhirnya, kakak perempuan Musa — yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan — memberanikan diri maju. Ia berkata kepada para pelayan, “Maukah aku tunjukkan sebuah keluarga yang bisa menyusuinya dengan baik?” Mereka setuju.

Ia membawa mereka kepada ibu kandungnya sendiri, tanpa seorang pun tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Begitu perempuan itu mendekat dan menggendong bayi itu, bayi itu langsung tenang dan mau menyusu. Semua orang terkejut dan lega.

Jadi ibu Musa bisa kembali mengasuh anaknya, setiap hari, di dalam istana, dan dibayar pula oleh istana. Allah mengabulkan janji-Nya dengan cara yang paling indah. Ibu Musa menangis bukan karena sedih lagi, tapi karena bahagia.

Musa tumbuh besar di istana. Ia belajar membaca, berhitung, menunggang kuda, dan memimpin. Tapi hatinya tidak keras. Ia tetap membela orang yang lemah, meskipun ia tinggal di istana yang menindas.

Ketika sudah dewasa, ia merasa tidak kerasan di Mesir. Ia pergi ke negeri Madyan, dan di sana ia bekerja sebagai penggembala selama bertahun-tahun. Di padang yang sunyi itulah ia belajar sabar, lembut, dan tenang.

Suatu malam, di sebuah lembah bernama Tuwa, Musa melihat sesuatu yang aneh: api yang menyala di atas sebuah pohon. Ia mendekat karena ingin tahu. Dan dari pohon itu, ia mendengar suara memanggil namanya: “Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah.”

Sejak malam itu, Musa menjadi nabi. Allah memberinya mukjizat yang luar biasa. Tongkatnya bisa berubah menjadi ular besar. Tangannya bisa memancarkan cahaya yang terang. Dan ia diperintahkan kembali ke Mesir untuk mengajak Firaun menyembah Allah.

Firaun tentu saja menolak. Ia malah menantang Musa dan mengumpulkan para pesulapnya. Tapi semua sulap mereka kalah oleh mukjizat yang Allah berikan kepada Musa.

Dan yang paling terkenal adalah kejadian di tepi laut. Musa dan kaumnya terjepit: di depan ada laut, di belakang ada pasukan Firaun yang mengejar dengan kuda dan kereta. Mereka sudah tidak punya jalan keluar. Orang-orang berteriak panik, “Kita pasti tertangkap!”

Musa menjawab dengan tenang, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Allah memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut itu pun terbelah! Jalan lebar terbentang di antara dua dinding air. Mereka menyeberang dengan aman, sambil melihat ikan-ikan berenang di sebelah kanan dan kiri. Ikan-ikan itu juga bingung, mungkin.

🌊🌊🚶‍♂️🚶‍♀️🚶
Jalan kering terbentang di tengah laut

Firaun dan pasukannya ikut masuk ke jalan itu karena mereka terlalu sombong untuk berhenti. Ketika semua sudah masuk, Allah memerintahkan laut kembali menutup. Firaun dan pasukannya tenggelam, dan Musa beserta kaumnya selamat.

Di padang pasir yang tandus, Allah tidak membiarkan mereka kelaparan. Setiap pagi turun makanan manis yang bernama manna, dan setiap sore datang burung-burung kecil yang bernama salwa. Selama empat puluh tahun, mereka tidak pernah kekurangan.

Di sebuah gunung yang bernama Tursina, Musa menerima kitab Taurat dari Allah, petunjuk bagi kaumnya. Sampai hari ini, nama Musa disebutkan paling banyak di dalam Al-Qur'an, karena dalam kisahnya ada pelajaran tentang keberanian, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah.

🧡 Hikmat Cerita

Kisah Nabi Musa penuh dengan kejadian yang seolah-olah mustahil. Seorang bayi dihanyutkan di sungai dan justru tumbuh di istana raja yang ingin membunuhnya. Sebuah tongkat membelah laut. Makanan turun dari langit. Semua itu mengajarkan satu hal: ketika semua jalan tampak tertutup, masih ada satu pintu yang selalu terbuka, yaitu pertolongan Allah. Namun pertolongan itu datang kepada orang yang sudah berusaha dan berserah, bukan kepada orang yang berputus asa.

Yang bisa kita ambil

  • 1Tawakal itu bukan menyerah. Ibu Musa berusaha semampunya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
  • 2Keberanian sejati adalah tetap tenang ketika semua orang panik, karena yakin Allah bersama kita.
  • 3Jabatan dan harta tidak menjadikan seseorang mulia. Firaun punya keduanya, tetapi ia tenggelam karena kesombongannya.
  • 4Allah menjaga anak-anak yang tidak berdaya dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia.
✨ Tawakal✨ Sayang ibu✨ Berani membela yang benar

💛 Pesan Kebaikan

Ketika semuanya tampak menakutkan, ada satu tempat paling aman: berpegangan kepada Allah. Ibu Musa berserah, dan bayinya diselamatkan dengan cara yang tidak terduga sama sekali.

🔍 Fakta Seru

Nama Nabi Musa adalah nama nabi yang paling sering disebut di dalam Al-Qur'an, yaitu lebih dari 130 kali. Kisahnya penuh pelajaran tentang keberanian.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Bikin keranjang kertas! Lipat kertas menjadi perahu kecil, taruh boneka mini di atasnya, lalu hanyutkan di bak mandi atau ember. Ajak ayah atau bunda menonton pelayaran pertama itu.

📖 Sumber Cerita

QS. Al-Qasas 3–13, QS. Asy-Syu'ara 52–68, dan QS. Al-A'raf 103–137