Nabi Harun adalah kakak dari Nabi Musa. Mereka tumbuh bersama di Mesir, dan mereka selalu dekat satu sama lain. Kalau kamu punya kakak atau adik, kamu pasti tahu perasaan itu: ada seseorang yang selalu ada di sampingmu.
Ketika Allah mengangkat Musa menjadi nabi dan memerintahkannya menghadap Firaun, Musa merasa berat. Bukan karena ia tidak mau, tetapi karena ia tahu betapa sombongnya Firaun. Ia sendiri pernah gagal berbicara di depan Firaun dahulu, dan ia khawatir lidahnya tidak lancar.
Maka Musa berdoa. Dan doanya bukan meminta kekayaan, bukan meminta pasukan, dan bukan meminta agar Firaun langsung berubah. Ia meminta sesuatu yang lain:
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengannya, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.”
Doa Nabi Musa, QS. Ta-Ha: 29–32
Allah mengabulkan doa itu. “Kami akan memperkuat lengannu dengan saudaramu, dan Kami akan memberikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar,” firman Allah. Sejak itu, Harun menjadi nabi juga, dan menjadi pendamping Musa dalam menghadap raja yang paling sombong di dunia.
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Musa tidak memilih siapa yang menjadi pendampingnya. Ia meminta kepada Allah, dan Allah memilih kakaknya sendiri. Padahal Musa lebih dulu diangkat menjadi nabi, dan biasanya orang yang lebih dulu merasa lebih tinggi.
Tetapi Musa justru mengakui kelebihan kakaknya. Ia berkata, “Ia lebih fasih lidahnya daripada aku.” Ia tidak malu mengakui bahwa ada hal yang lebih baik pada orang lain, bahkan pada kakaknya. Itu tanda hati yang bersih.
Mereka berdua pun menghadap Firaun. Mereka berbicara dengan sopan, walaupun Firaun menyombongkan diri dan mengaku sebagai tuhan. Mereka menjelaskan, mereka memberi peringatan, dan mereka bersabar menghadapi hinaan.
Setelah Firaun dan pasukannya tenggelam di laut, Musa dan Bani Israil melanjutkan perjalanan. Allah memerintahkan Musa untuk naik ke Gunung Tursina selama empat puluh malam untuk menerima kitab Taurat.
Sebelum pergi, Musa menyerahkan kaumnya kepada Harun. “Gantikanlah aku di tengah kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”
Itu adalah amanah yang berat: memimpin kaum yang baru saja diselamatkan dari perbudakan, dan Musa pergi cukup lama. Harun menerimanya, dan ia tetap berada di tengah mereka.
Tetapi kaum itu tidak sabar. Ketika Musa belum juga kembali, mereka mulai gelisah. Seorang laki-laki bernama Samiri membuat sebuah patung berbentuk anak sapi dari emas, dan berkata kepada mereka, “Inilah tuhanmu dan tuhan Musa.”
Banyak dari kaum itu percaya, dan mereka mulai menyembah patung itu. Padahal baru beberapa minggu sebelumnya mereka melihat laut terbelah dengan mata kepala sendiri.
Harun berdiri di hadapan mereka. Ia berkata dengan tegas, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah difitnah dengan patung anak sapi itu. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.”
Tetapi mereka menjawab, “Kami akan terus menyembahnya sampai Musa kembali.” Mereka tidak mau mendengar. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada Harun dan orang-orang yang tetap bertahan.
Inilah ujian bagi Harun: berdiri di atas kebenaran ketika hampir semua orang di sekelilingnya sudah salah. Ia tidak ikut. Ia tidak diam menerima. Ia menegur mereka, walaupun suaranya kalah ramai.
Ketika Musa kembali dan melihat patung anak sapi itu disembah, ia sangat marah dan sedih. Ia menaruh lempengan-lempengan kitab Taurat itu, lalu memegang kepala saudaranya dan menariknya ke arahnya.
Harun menjelaskan dengan suara yang tenang, “Wahai anak ibuku, janganlah engkau pegang janggutku dan jangan pula kepala ku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan berkata, 'Kamu telah memecah belah Bani Israil, dan kamu tidak memelihara perkataanku.'”
Harun sedang menjelaskan sesuatu yang penting: ia tidak ikut menyembah patung, tetapi ia juga tidak mau memaksakan perpecahan di kaum itu, dan ia menunggu Musa kembali. Dan Musa pun mendoakan kebaikan bagi saudaranya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.
Setelah itu, Samiri diusir, dan patung anak sapi itu dibakar serta dihanyutkan ke laut. Kaum itu menyesal, tetapi mereka harus menanggung akibat dari perbuatan mereka.
Nabi Harun wafat sebelum kaumnya masuk ke tanah yang dijanjikan. Tetapi namanya disebut di dalam Al-Qur'an sebagai nabi yang Allah beri rahmat, dan sebagai pendamping yang memperkuat langkah saudaranya.
🧡 Hikmat Cerita
Nabi Harun adalah teladan seorang pembantu yang baik. Ia tidak iri kepada adiknya yang lebih dahulu menjadi nabi, ia tidak mengejar kedudukan, dan ia mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya dengan setia. Ketika kaumnya salah, ia tetap berdiri di atas kebenaran meskipun jumlahnya sedikit, dan ia melakukannya dengan tutur kata yang baik.
Yang bisa kita ambil
- 1Jangan iri ketika saudara atau temanmu mendapat kelebihan. Nabi Harun justru memperkuat adiknya.
- 2Setiap orang punya kelebihan yang berbeda. Musa pandai memimpin, Harun pandai berbicara.
- 3Berdirilah di atas kebenaran meski hanya sedikit yang bersamamu, dan tegurlah dengan kata-kata yang baik.
- 4Mengerjakan tugas yang dititipkan dengan setia adalah ibadah yang besar.