Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai anak, padahal usianya sudah lanjut. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh.”
Allah mengabulkan doanya. Lahirlah seorang anak laki-laki dari Hajar, dan diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim sangat bahagia. Setiap kali ia memandang anaknya, ia bersyukur kepada Allah.
Tidak lama setelah Ismail lahir, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah yang jauh. Lembah itu bernama Bakkah, dan tempat itu benar-benar sunyi. Tidak ada rumah, tidak ada pohon, dan yang paling penting: tidak ada air.
Nabi Ibrahim membawa mereka ke sana. Ia meletakkan sebuah kendi berisi sedikit air dan sebungkus kurma, lalu ia berbalik untuk pergi.
Hajar mengejarnya. “Hai Ibrahim! Ke mana kamu pergi? Kamu meninggalkan kami di lembah yang tidak ada apa-apa ini?” Ia bertanya berkali-kali, tetapi Nabi Ibrahim tetap berjalan dan tidak menoleh.
Akhirnya Hajar bertanya dengan pertanyaan yang berbeda, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”
Nabi Ibrahim menoleh, dan menjawab, “Ya.”
Hajar terdiam sebentar. Lalu ia berkata dengan tenang, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Ia berbalik dan kembali kepada anaknya, tanpa menangis, tanpa mengeluh.
Kalimat itu sederhana sekali. Tetapi kalimat itu adalah tanda hati yang percaya sepenuhnya. Kalau yang memerintahkan adalah Allah, pasti ada kebaikan di dalamnya, walaupun kita belum bisa melihatnya sekarang.
Hari-hari berikutnya berjalan berat. Air di kendi itu habis. Air susunya pun habis, karena ia sendiri kurang makan dan minum. Bayi Ismail menangis kehausan, dan tangisnya membuat Hajar panik.
Ia berlari ke sebuah bukit kecil bernama Safa dan berdiri di puncaknya. Ia mencari-cari, mungkin ada orang, mungkin ada air. Tidak ada. Ia berlari ke bukit lain bernama Marwa, dan berdiri di sana. Tetap tidak ada.
Ia berlari bolak-balik antara kedua bukit itu tujuh kali. Bayangkan: sudah kehausan, sudah lelah, ditambah kepanikan karena anaknya menangis. Tetapi ia tidak berhenti. Ia terus berusaha, sambil di dalam hatinya ia berserah kepada Allah.
Pada kali yang ketujuh, ketika ia berada di atas Marwa, ia mendengar sesuatu. Ia menoleh ke arah anaknya. Dan ia melihat sesuatu yang tidak ia duga: air memancar dari tanah tepat di dekat kaki bayi Ismail.
Air itu keluar terus, tidak berhenti. Hajar berlari menghampirinya, lalu ia menampungnya dengan kedua tangannya dan membendungnya dengan pasir supaya tidak meluap. Ia memberi minum anaknya sampai puas.
Mata air itu diberi nama Zamzam. Sampai hari ini, ribuan tahun kemudian, mata air itu masih mengalir dan masih diminum oleh jutaan orang dari seluruh dunia. Tidak pernah kering, walaupun sudah diambil setiap hari tanpa henti.
Sejak itu, burung-burung mulai berdatangan ke tempat itu karena ada air. Orang-orang yang melihat burung terbang berputar-putar pun tahu bahwa di bawahnya pasti ada sumber air. Datanglah sebuah kabilah bernama Jurhum, dan mereka meminta izin untuk tinggal di sana bersama Hajar dan Ismail.
Ismail pun tumbuh di lembah itu. Ia belajar bahasa Arab dari kabilah tersebut, ia belajar memanah, dan ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat serta jujur. Dan setiap kali ayahnya datang berkunjung, Ismail menyambutnya dengan gembira.
Ketika Ismail sudah beranjak dewasa, datanglah ujian terbesar dalam hidupnya. Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya. Para nabi tahu bahwa mimpi mereka adalah wahyu. Nabi Ibrahim sangat sedih, tetapi ia menyampaikan hal itu kepada anaknya dengan cara yang lembut.
“Wahai anakku,” katanya, “sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu.”
Ismail menjawab tanpa ragu sedikit pun, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Nabi Ismail, QS. As-Saffat: 102
Bayangkan jawaban itu. Seorang anak muda yang menyerahkan dirinya kepada perintah Allah, dan seorang ayah yang harus melakukannya meskipun hatinya berat. Keduanya taat, dan keduanya sabar.
Ketika keduanya sudah pasrah dan Nabi Ibrahim telah membaringkan anaknya, Allah memanggil, “Hai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpimu itu.” Dan Allah menggantinya dengan seekor kibas yang besar, yang dikirim dari surga.
Kibas itu menjadi pengganti Ismail. Dan sejak peristiwa itulah, umat Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih hewan kurban setiap hari raya Idul Adha — bukan untuk memberi makan Allah, karena Allah tidak makan, tetapi untuk mengingat ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, serta untuk berbagi daging kepada orang-orang yang membutuhkan.
Bertahun-tahun kemudian, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bersama-sama membangun kembali Ka'bah, rumah pertama yang didirikan di bumi untuk menyembah Allah. Ismail mengangkat batu, Ibrahim menyusunnya, dan keduanya bekerja sebagai ayah dan anak.
Sampai hari ini, jutaan orang datang ke tempat itu setiap tahun. Mereka berjalan mengelilingi Ka'bah, dan mereka berlari kecil antara Safa dan Marwa — mengingat seorang ibu yang berlari tujuh kali mencari air untuk anaknya, dan mengingat bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berusaha dan berserah.
🧡 Hikmat Cerita
Kisah Nabi Ismail adalah kisah tentang tawakal yang sungguh-sungguh. Hajar berserah, tetapi ia tetap berlari mencari air. Nabi Ibrahim taat, meskipun berat hatinya. Nabi Ismail patuh, tanpa mendebat. Ketiganya menunjukkan bahwa berserah kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha, dan berusaha bukan berarti berhenti percaya.
Yang bisa kita ambil
- 1Berserah kepada Allah bukan berarti diam saja. Hajar berlari tujuh kali sebelum air itu keluar.
- 2Allah menolong hamba-Nya pada waktu yang paling tepat, sering kali saat semua usaha kita sudah habis.
- 3Anak yang berbakti kepada orang tua dan taat kepada Allah akan selalu dikenang.
- 4Janji itu harus ditepati. Ismail disebut dalam Al-Qur'an sebagai orang yang benar janjinya.