🏠

Nabi yang Sangat Memuliakan Tamu

Kisah Nabi Luth 'alaihissalam

🔢 Cerita ke-7 dari 25🕌 Cerita Nabi & Rasul🎂 7–10 tahun⏱️ 9 menit🧒 Nabi Luth

Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan negeri Babilonia, Luth ikut bersamanya. Ia tumbuh di bawah bimbingan seorang nabi, dan ia belajar banyak hal baik dari pamannya.

Allah mengangkat Luth menjadi nabi, dan ia diutus kepada penduduk sebuah negeri yang bernama Sodom. Negeri itu makmur, kotanya besar, dan jalan-jalannya ramai. Tetapi penduduknya sudah lama meninggalkan ajaran yang benar.

Mereka menyembah patung, mereka berbuat kasar kepada orang yang lemah, dan mereka suka merampas milik orang lain. Yang paling buruk, mereka melakukan perbuatan tercela yang belum pernah dilakukan orang lain sebelum mereka, dan mereka tidak merasa malu melakukannya secara terbuka.

Bagi anak-anak, cukup diketahui bahwa perbuatan kaum Luth itu adalah perbuatan yang sangat buruk dan tidak pantas dilakukan manusia. Al-Qur'an menyebutnya sebagai perbuatan keji.

Nabi Luth mengajak mereka dengan sabar. Ia mengingatkan, ia menasihati, dan ia menjelaskan akibat dari perbuatan mereka. Tetapi mereka bukan hanya menolak. Mereka malah mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri itu.

“Kalau kamu tidak berhenti, kami akan mengusirmu!” kata mereka.

Nabi Luth menjawab dengan tenang, “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.” Ia tidak ikut-ikutan, walaupun semua orang di negeri itu melakukannya. Ia tetap berdiri di atas kebenaran, walaupun hanya sedikit orang yang bersamanya.

Ada satu hal yang membuat Nabi Luth terkenal di antara para nabi: ia sangat memuliakan tamu. Rumahnya selalu terbuka. Kalau ada orang lewat dan ingin singgah, ia dipersilakan masuk, diberi tempat duduk, diberi makan, dan dilayani sebaik mungkin.

Di tengah kaum yang suka berbuat kasar, kebiasaan memuliakan tamu itu menjadi sangat berharga. Karena itulah Nabi Luth sangat khawatir kalau ada tamu datang ke negerinya.

🏠🕯️🚪
Rumah Nabi Luth selalu terbuka, tetapi ia selalu waspada

Suatu hari, datanglah beberapa tamu yang tampan dan rapi ke rumahnya. Mereka adalah malaikat yang diutus Allah, tetapi mereka datang dalam wujud manusia. Nabi Luth belum tahu siapa mereka.

Nabi Luth mempersilakan mereka masuk dan menjamu mereka. Tetapi hatinya gelisah, karena ia tahu penduduk negeri itu akan mengetahuinya, dan ia tahu apa yang biasa mereka lakukan kepada tamu.

Benar saja. Kabar itu menyebar dengan cepat. Penduduk negeri datang berbondong-bondong ke depan rumah Nabi Luth. Mereka mendesak agar tamu itu diserahkan kepada mereka.

Nabi Luth berdiri di depan pintu rumahnya. Ia menghalangi mereka dengan tubuhnya sendiri. Ia berkata, “Wahai kaumku, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku malu di depan tamu-tamuku.”

Ia berusaha sekuat tenaga melindungi tamunya, walaupun ia tahu jumlah mereka jauh lebih banyak. Ia sudah siap menanggung akibatnya. Itulah bentuk penghormatan seorang tuan rumah yang sejati: tamu dilindungi sampai titik terakhir.

Ketika keadaan menjadi sangat sulit, para malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut dan jangan bersedih. Kami akan menyelamatkanmu dan keluargamu, kecuali istrimu.”

Mereka juga memberitahu bahwa azab akan datang kepada kaum itu pada waktu subuh. Al-Qur'an mencatat ucapan mereka: “Sesungguhnya waktunya adalah waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Pada malam itu, Nabi Luth dan keluarganya diperintahkan keluar dari negeri itu, dan tidak seorang pun boleh menoleh ke belakang. Istrinya, yang selama ini berpihak kepada kaum itu dan tidak beriman, tinggal bersama mereka.

Ketika subuh datang, terjadilah apa yang telah Allah janjikan. Negeri itu dibalikkan, dan hujan batu yang membara menimpa mereka. Negeri yang ramai itu menjadi sunyi dalam sekejap.

Nabi Luth dan keluarganya selamat, dan sisa-sisa negeri itu menjadi tanda bagi orang-orang yang datang kemudian — sebuah pengingat bahwa perbuatan buruk, meskipun dilakukan oleh seluruh penduduk sebuah negeri, tetap tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

🧡 Hikmat Cerita

Nabi Luth hidup di tengah kaum yang seluruhnya berbuat buruk, tetapi ia tidak ikut. Ia menjaga dirinya, ia menjaga keluarganya, dan ia menjaga tamunya. Kisah ini mengajarkan bahwa jumlah orang yang banyak tidak menjadikan sesuatu menjadi benar, dan bahwa memuliakan tamu adalah akhlak yang sangat mulia.

Yang bisa kita ambil

  • 1Tidak semua yang dilakukan orang banyak itu benar. Beranilah berdiri sendiri kalau yang lain salah.
  • 2Memuliakan tamu adalah akhlak para nabi: memberi tempat, memberi makan, dan menjaganya.
  • 3Jangan pernah menganggap perbuatan buruk sebagai hal yang biasa, walaupun semua orang melakukannya.
  • 4Pilihlah teman dengan hati-hati, karena kebiasaan baik dan buruk menular lewat pergaulan.
✨ Memuliakan tamu✨ Berani menolak keburukan✨ Menjaga diri

💛 Pesan Kebaikan

Kalau kamu tahu sesuatu itu salah, jangan ikut walaupun teman-temanmu melakukannya. Dan kalau ada tamu di rumahmu, sambutlah dengan wajah yang senang — itu akhlak Nabi Luth.

🔍 Fakta Seru

Nabi Luth dan Nabi Ibrahim adalah paman dan keponakan, dan keduanya sama-sama berdakwah di negeri yang berbeda. Kisah mereka menunjukkan bahwa keluarga nabi pun bisa berbeda jalan kalau hatinya berbeda.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Coba jadi tuan rumah yang baik! Saat ada tamu datang, lakukan tiga hal: ucapkan salam dengan suara jelas, persilakan duduk, dan tawarkan minuman. Perhatikan wajah tamu itu ketika kamu melakukannya.

📖 Sumber Cerita

QS. Al-A'raf 80–84, QS. Hud 77–83, dan QS. Al-Hijr 51–77

Ayat-ayat di atas adalah pokok ceritanya. Percakapan, suasana, dan perasaan tokoh ditulis sebagai gaya bercerita untuk anak. Kalau ada nama atau perincian yang hanya disebutkan dalam riwayat, di dalam cerita diberi penanda “para ulama menuturkan” atau “dikenal dalam riwayat”.