🐪

Unta dari Celah Batu

Kisah Nabi Shaleh 'alaihissalam

🔢 Cerita ke-5 dari 25🕌 Cerita Nabi & Rasul🎂 6–10 tahun⏱️ 9 menit🧒 Nabi Shaleh

Setelah kaum 'Ad, hiduplah kaum lain yang bernama kaum Tsamud. Tempat tinggal mereka bernama Al-Hijr, sebuah daerah berbatu yang dipenuhi bukit-bukit batu yang besar dan kokoh.

Kaum Tsamud adalah kaum yang pandai sekali. Mereka tidak hanya membangun rumah di atas tanah, tetapi juga memahat rumah di dalam dinding gunung batu. Mereka membuat ruang-ruang yang sejuk, pintu-pintu yang rapi, dan tangga-tangga di dalam batu.

Kalau kamu melihatnya, kamu pasti takjub. Bagaimana caranya manusia bisa membuat rumah di dalam batu? Itu pekerjaan berat dan membutuhkan keterampilan yang hebat. Sebelum ada mesin, mereka melakukannya dengan tangan.

Allah memberikan mereka negeri yang subur, air yang cukup, kebun kurma, dan ternak yang banyak. Untuk sementara waktu, hidup mereka tenang dan makmur.

Tetapi mereka juga menyembah berhala, sebagaimana kaum sebelum mereka. Dan mereka mulai merasa bahwa kepandaian mereka itu milik mereka sendiri.

Allah mengutus Nabi Shaleh kepada mereka. Ia masih keluarga mereka sendiri, dan mereka mengenalnya sebagai orang yang jujur dan bertutur sopan. Sudah lama mereka menunggu, karena mereka pernah mendengar bahwa akan datang seorang nabi dari kalangan mereka.

“Wahai kaumku,” kata Nabi Shaleh, “sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Dialah yang menciptakanmu dari bumi dan menjadikanmu pemakmurnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertaubatlah kepada-Nya.”

Kaum Tsamud menjawab dengan sebuah tantangan. Mereka berkata, “Kami tidak akan percaya sebelum kamu mengeluarkan seekor unta dari batu ini. Unta yang besar, hidup, dan benar-benar berjalan.”

Mereka mengajukan permintaan yang mustahil dengan sengaja. Mereka tahu bahwa itu tidak mungkin, dan mereka mengira Nabi Shaleh tidak akan sanggup melakukannya.

Nabi Shaleh berdoa kepada Allah, dan Allah memberikan tanda itu. Dari sebuah batu besar di hadapan mereka, keluarlah seekor unta betina yang besar dan hidup. Ia berdiri, menggerakkan kepalanya, dan berjalan ke arah mereka.

Betapa terkejutnya kaum Tsamud. Mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tidak ada yang bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat.

Nabi Shaleh lalu berkata, “Ini unta Allah. Ia adalah tanda bagimu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan jangan menyentuhnya dengan keburukan, supaya kamu tidak ditimpa azab yang pedih.”

Ia juga menetapkan aturan yang adil: unta itu punya jatah minum pada suatu hari, dan mereka punya jatah minum pada hari yang lain. Jadi keduanya bisa hidup dan tidak ada yang dirugikan.

🐪🏔️🍶
Unta itu minum sehari, mereka minum sehari

Untuk beberapa waktu, semuanya berjalan baik. Unta itu makan di padang, minum dari mata air, dan kembali ke tempatnya. Setiap orang bisa melihatnya, dan setiap orang tahu bahwa itu bukan unta biasa.

Tetapi ada sekelompok dari kaum Tsamud yang tidak sabar. Mereka kesal karena unta itu memakai air mereka, dan mereka tidak suka melihat tanda itu terus-menerus mengingatkan mereka. Mereka berunding dalam rahasia.

Maka datanglah sembilan orang yang paling berani di antara mereka. Mereka menunggu unta itu lewat, lalu salah satu dari mereka melukai kaki unta itu. Unta besar itu jatuh, dan akhirnya mati.

Hewan yang tidak bersalah, yang hanya makan rumput dan minum air, telah mereka bunuh — hanya karena mereka tidak suka diingatkan.

Setelah itu, mereka justru mendatangi Nabi Shaleh dan menantang, “Kalau kamu benar-benar nabi, datangkan azab yang kamu janjikan itu sekarang!”

Nabi Shaleh menjawab, “Bersukarialah kamu di rumahmu selama tiga hari.” Maka mereka menunggu, dan pada hari yang dijanjikan, datanglah suara yang sangat keras disertai gempa yang mengguncang negeri itu.

Bangunan-bangunan yang mereka pahat dengan susah payah di dalam batu tidak dapat menolong mereka. Rumah-rumah yang sejuk di dalam gunung itu tidak dapat melindungi pemiliknya.

Nabi Shaleh dan orang-orang yang beriman bersamanya telah keluar dengan selamat. Ketika ia melewati puing-puing negeri itu, ia menoleh kepada kaumnya yang sudah tidak ada, dan berkata dengan sedih, “Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.”

🧡 Hikmat Cerita

Kaum Tsamud diberi kepandaian, kekayaan, dan bahkan sebuah tanda besar yang nyata. Tetapi tanda itu tidak berguna bagi orang yang sudah memutuskan untuk tidak percaya. Kisah unta ini juga mengajarkan sesuatu yang sederhana: menyakiti makhluk yang tidak bersalah adalah perbuatan yang sangat buruk, dan tidak ada alasan yang bisa membenarkannya.

Yang bisa kita ambil

  • 1Tanda dan bukti tidak berguna bagi orang yang memang tidak mau berubah.
  • 2Jangan menyakiti hewan. Mereka makhluk Allah yang juga makan, minum, dan hidup di bumi-Nya.
  • 3Kepandaian membuat rumah di dalam batu pun tidak bisa menyelamatkan dari akibat perbuatan sendiri.
  • 4Berkata benar di tengah orang banyak yang salah memang berat, tetapi itulah yang dilakukan para nabi.
✨ Menjaga amanah✨ Menyayangi hewan✨ Tidak mengikuti keburukan orang banyak

💛 Pesan Kebaikan

Sayangi hewan. Mereka tidak bisa bicara dan tidak bisa membela diri, jadi memperlakukan mereka dengan baik adalah tanda hati yang bersih.

🔍 Fakta Seru

Rumah-rumah yang dipahat di dinding batu itu benar-benar ada. Sisa-sisanya bisa ditemukan di Mada'in Saleh, Arab Saudi, dan sekarang menjadi salah satu situs warisan dunia.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Isi mangkuk air untuk hewan di sekitar rumahmu, atau beri makan burung. Lalu perhatikan: hewan-hewan itu tidak bisa mengucapkan terima kasih, tetapi lihatlah bagaimana mereka berlari atau terbang setelahnya.

📖 Sumber Cerita

QS. Al-A'raf 73–79, QS. Hud 61–68, dan QS. Asy-Syu'ara 141–159

Ayat-ayat di atas adalah pokok ceritanya. Percakapan, suasana, dan perasaan tokoh ditulis sebagai gaya bercerita untuk anak. Kalau ada nama atau perincian yang hanya disebutkan dalam riwayat, di dalam cerita diberi penanda “para ulama menuturkan” atau “dikenal dalam riwayat”.