Setelah Nabi Musa wafat, Bani Israil dipimpin oleh raja-raja dari kalangan mereka sendiri. Pada suatu masa, mereka harus berperang melawan musuh yang sangat kuat, dan di antara musuh itu ada seorang panglima perang yang sangat besar dan sangat menakutkan. Namanya Jalut.
Tubuh Jalut jauh lebih besar daripada manusia biasa. Suaranya keras, senjatanya berat, dan ia sudah mengalahkan banyak sekali orang. Setiap kali ia melangkah maju, prajurit Bani Israil mundur selangkah.
Raja mereka, Talut, mengumpulkan seluruh pasukannya. Tetapi ketika mereka melihat pasukan musuh, keberanian mereka menguap. Mereka berkata, “Kami tidak sanggup melawan mereka hari ini.”
Di dalam barisan itu, ada seorang anak yang masih sangat muda. Namanya Daud. Ia bukan prajurit, sebab ia belum cukup umur untuk berperang. Ia datang ke medan itu hanya untuk mengantar makanan kepada kakak-kakaknya yang ikut berperang.
Daud mendengar semua prajurit membicarakan Jalut dengan suara yang bergetar. Ia berdiri di antara mereka dan bertanya, “Siapa orang ini yang berani mencela Allah? Kenapa kalian takut?”
Kalimat itu membuat kakak-kakaknya kesal. Mereka menyuruhnya diam dan pulang. Mereka malu karena adik kecil mereka berbicara seperti itu di depan orang banyak.
Tetapi Daud tidak mundur. Ia berjalan ke hadapan raja Talut dan berkata, “Aku akan melawan Jalut.”
Raja Talut menatapnya. “Kamu tidak akan sanggup. Kamu masih kecil, dan dia sudah berperang sejak sebelum kamu lahir.”
Raja Talut tetap ragu, tetapi Daud tidak goyah. Ia percaya bahwa pertolongan Allah tidak pernah kurang. Al-Qur'an mencatat perkataan pasukan kecil itu: “Berapa banyak pasukan yang sedikit mengalahkan pasukan yang banyak dengan izin Allah.” Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.
Kalimat itu luar biasa. Daud tidak berkata, “Aku kuat.” Ia berkata, “Allah yang menyelamatkanku.” Ia tahu bahwa dirinya kecil, tetapi ia juga tahu bahwa Allah Maha Besar.
Akhirnya raja mengizinkan. Menurut riwayat yang dikenal luas, mereka memakaikan baju besi kepada Daud, tetapi baju itu terlalu besar dan terlalu berat. Daud melepasnya, lalu mengambil alat yang biasa ia pakai setiap hari: sebuah ketapel dan beberapa batu yang dipungutnya dari sungai.
Jalut tertawa ketika melihat siapa yang datang menghadapnya. Seorang anak kecil, tanpa baju besi, tanpa pedang, hanya membawa ketapel. Sungguh lucu di matanya.
Daud tidak menunggu lama dan tidak banyak bicara. Ia memutar ketapelnya, mengarahkan, lalu melepaskan batu itu.
Batu kecil itu melesat dan tepat mengenai dahi Jalut. Raksasa itu terhuyung, lalu jatuh ke tanah. Tidak butuh tombak, tidak butuh pedang — hanya sebuah batu yang dilepaskan oleh tangan kecil yang disertai pertolongan Allah.
Melihat panglima mereka tumbang, pasukan musuh pun tercerai-berai. Bani Israil menang, dan nama Daud pun dikenal seluruh negeri. Daud tumbuh menjadi orang yang dihormati, dan Allah kemudian mengangkatnya menjadi nabi sekaligus raja.
Allah memberi Daud banyak kelebihan. Salah satunya adalah suaranya. Kalau Daud membaca kitab Zabur dengan suaranya, semua orang yang mendengarnya terdiam. Burung-burung berhenti terbang, dan gunung-gunung seolah-olah ikut bersuara memuji Allah bersama dia.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kelebihan kepada Daud dengan suara yang indah. Hai gunung-gunung, bertasbihlah bersama dia, dan begitu pula burung-burung.”
QS. Saba: 10
Allah juga memberi kelebihan yang lain: besi menjadi lembut di tangan Daud. Jadi ia bisa membentuk besi tanpa harus memanaskannya dengan api yang sangat besar. Dan Daud memakai kelebihan itu untuk membuat baju besi — pakaian pelindung untuk para prajurit.
Ia tidak membuat patung, tidak membuat hiasan, tidak membuat barang mewah untuk dirinya sendiri. Ia membuat sesuatu yang melindungi orang. Bahkan dalam hal memilih pekerjaan, Daud memilih yang berguna bagi orang banyak.
Daud juga terkenal sangat rajin beribadah. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan cara itu disebut sebagai puasa yang paling utama. Ia juga membagi waktunya: sebagian untuk beribadah, sebagian untuk memutuskan perkara dengan adil, dan sebagian untuk bekerja dengan tangannya sendiri.
Ia tidak mau makan dari pemberian orang, padahal ia seorang raja. Ia makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri. Seorang raja yang membuat baju besi dengan tangannya sendiri — itu teladan yang sulit ditandingi.
Daud juga memutuskan perkara dengan adil. Kalau ada dua orang berselisih, ia mendengarkan keduanya sampai selesai. Dan Allah mengujinya dengan sebuah perkara yang membuatnya sadar bahwa ia perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan.
Sampai akhir hayatnya, Nabi Daud terus beribadah, bekerja, dan memutuskan perkara dengan adil. Dan namanya diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai hamba Allah yang kuat dalam beribadah dan selalu kembali kepada Tuhannya.
🧡 Hikmat Cerita
Daud menang bukan karena ia kuat, tetapi karena ia percaya kepada Allah. Ia tahu bahwa jumlah pasukan tidak menentukan hasil, karena yang menentukan adalah izin Allah. Kisahnya mengajarkan bahwa keberanian sejati tumbuh dari kepercayaan kepada Allah, dan bahwa pertolongan-Nya bisa datang lewat hal yang paling sederhana — sebuah batu di ketapel seorang anak.
Yang bisa kita ambil
- 1Keberanian tumbuh dari hal kecil yang dikerjakan dengan berani setiap hari.
- 2Jangan mengukur kemampuan hanya dari besar kecilnya tubuh. Allah yang menentukan hasilnya.
- 3Gunakan kelebihanmu untuk melindungi orang lain, seperti Daud membuat baju besi untuk para prajurit.
- 4Kerjakan dengan tanganmu sendiri. Itu lebih terhormat daripada bergantung pada pemberian orang.