Nabi Sulaiman adalah anak Nabi Daud. Ia mewarisi kenabian dan juga kerajaan ayahnya. Tetapi Allah memberinya lebih dari itu — Allah memberinya kelebihan yang tidak diberikan kepada manusia lain.
Salah satu kelebihannya adalah ia bisa mengerti bahasa hewan. Ia mendengar apa yang dikatakan burung, ia paham apa yang dikatakan semut, dan ia tahu apa maksud suara kuda. Bayangkan: semua suara di sekitarmu bukan lagi hanya suara, tetapi percakapan.
Allah juga menundukkan angin untuknya. Ia bisa bepergian jauh dalam waktu yang sangat singkat. Allah juga menundukkan jin untuk bekerja kepadanya, membangun gedung-gedung besar dan membuat kolam-kolam raksasa.
Dengan semua itu, Sulaiman menjadi raja yang paling berkuasa di zamannya. Tidak ada raja yang bisa menandingi pasukannya, kekayaannya, dan pengetahuannya.
Tetapi ada satu hal yang membuat Sulaiman berbeda dari raja-raja yang sombong. Setiap kali ia melihat kelebihannya, ia tidak berkata, “Aku hebat.” Ia berkata, “Ini karunia dari Allah.”
Dan ketika Allah memberinya banyak hal, doanya bukanlah meminta lebih, melainkan meminta supaya ia selalu bisa bersyukur. Itulah sebabnya Allah memujinya sebagai hamba yang selalu kembali kepada Tuhannya.
Suatu hari, Nabi Sulaiman berangkat bersama pasukannya yang sangat besar: manusia, jin, dan burung-burung semuanya berbaris dalam satu barisan rapi. Mereka melewati sebuah lembah yang di situ banyak semut tinggal.
Seekor semut yang melihat rombongan itu dari kejauhan langsung berseru kepada kawan-kawannya, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu, supaya kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan pasukannya, sedangkan mereka tidak menyadari!”
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu, supaya kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan pasukannya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
QS. An-Naml: 18
Coba perhatikan kalimat semut itu. Ia tidak berkata, “Sulaiman itu jahat.” Ia justru berkata, “Mereka tidak menyadari.” Semut kecil itu tahu bahwa Sulaiman bukan raja yang sengaja menginjak makhluk kecil — ia hanya khawatir karena rombongan itu besar sekali.
Nabi Sulaiman mendengar kalimat itu. Ia mendengar dengan jelas, karena Allah memberinya kemampuan itu. Dan apa reaksinya? Ia tidak marah. Ia tidak tersinggung. Ia tidak menyuruh pasukannya menghancurkan sarang semut itu.
Ia tersenyum. Bahkan Al-Qur'an menyebutkan bahwa ia tertawa karena perkataan semut itu. Lalu ia berdoa dengan doa yang sangat indah:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.”
QS. An-Naml: 19
Perhatikan doa itu. Raja yang paling berkuasa di dunia tidak meminta tambahan wilayah, tidak meminta lebih banyak harta. Ia meminta supaya bisa bersyukur dan berbuat amal saleh. Itulah tanda hati yang tidak pernah dilupakan oleh kekuasaan.
Kemudian terjadilah kisah yang terkenal tentang burung hud-hud. Suatu hari Sulaiman memeriksa pasukan burung-burungnya, dan ia menyadari bahwa hud-hud tidak ada. “Kenapa aku tidak melihat hud-hud? Apakah ia termasuk yang tidak hadir?”
Tidak lama kemudian, hud-hud datang dan membawa kabar yang sangat penting. “Aku telah menemukan sesuatu yang belum engkau ketahui,” katanya. “Aku menemukan seorang perempuan yang memerintah sebuah negeri besar, dan ia memiliki singgasana yang agung. Tetapi ia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah.”
Negeri itu bernama Saba', dan ratunya dikenal dalam riwayat dengan nama Bilqis. Sulaiman menyampaikan pesan yang baik dan sopan, mengajak ratu itu menyembah Allah. Ia juga ingin menunjukkan sesuatu kepadanya, sebagai tanda kenabian Sulaiman.
Sebelum ratu itu datang, Sulaiman meminta salah seorang dari pasukannya memindahkan singgasana ratu itu ke hadapannya. Dan singgasana itu berpindah dalam sekejap, sebelum mata berkedip.
Ketika ratu itu tiba dan melihat singgasananya sudah ada di tempat yang jauh dari negerinya, ia sangat terkejut. Ia menyadari bahwa negeri ini memiliki kekuatan yang tidak ia pahami. Dan akhirnya ia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku sendiri. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Sulaiman menerima kedatangan ratu itu dengan hormat. Ia tidak memamerkan kekuasaannya untuk merendahkan. Ia tidak menuntut upeti. Yang ia inginkan hanyalah satu hal: supaya ratu itu dan kaumnya mengenal Allah.
Nabi Sulaiman memerintah dengan adil sampai akhir hayatnya. Dan di dalam Al-Qur'an, namanya selalu disebut sebagai hamba yang pandai bersyukur, walaupun ia adalah raja yang paling berkuasa.
🧡 Hikmat Cerita
Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang luar biasa: angin, jin, dan kemampuan berbicara dengan hewan. Tetapi yang membuatnya mulia bukan kekuasaannya, melainkan rasa syukurnya. Ia tertawa mendengar peringatan seekor semut kecil, dan ia berdoa supaya bisa bersyukur — bukan supaya bisa lebih berkuasa. Kisah ini mengajarkan bahwa makin besar kelebihan seseorang, makin besar pula kebutuhan untuk bersyukur dan rendah hati.
Yang bisa kita ambil
- 1Kelebihan adalah pemberian Allah, bukan bukti bahwa kita lebih baik daripada orang lain.
- 2Sekecil apa pun makhluk, jangan pernah diremehkan. Sebab semut pun bisa mengajarkan sesuatu kepada seorang raja.
- 3Berdoalah meminta hati yang pandai bersyukur, bukan hanya meminta tambahan.
- 4Gunakan kekuasaan dan kelebihan untuk mengajak orang kepada kebaikan, bukan untuk menindas.