Besok nenek ulang tahun. Nenek umurnya sudah tujuh puluh dua tahun, dan setiap tahun ia selalu bilang hal yang sama: “Nenek tidak perlu hadiah. Nenek cuma mau kumpul.”
Tapi tahun ini aku punya rencana. Aku mau memberi nenek kue. Bukan kue dari toko, tapi kue yang aku dan Bunda buat sendiri. Aku sudah memikirkan ini selama satu minggu penuh.
“Kita harus tahu kue kesukaan nenek,” kata Bunda. Kami menelepon nenek, tapi kami bertanya dengan cara yang tidak mencurigakan. Aku bilang, “Nek, lagi ngapain?” Nenek bilang, “Lagi makan bolu. Bolu kesukaan Nenek.” Nah, ketahuan.
Jadi kami memutuskan membuat bolu stroberi. Pagi-pagi kami pergi ke warung Bu Ida untuk membeli bahan. Kami membeli tepung, gula, telur, mentega, dan satu bungkus besar stroberi. Stroberi itu mahal, dan Bunda membelinya tanpa mengeluh.
Di rumah, kami mengeluarkan semua bahan ke meja. Bunda mengikat rambutnya dengan karet. Aku memakai celemaku yang bergambar dinosaurus, walaupun di dapur kami tidak ada dinosaurus. Aku juga memakai topi koki dari kertas yang aku buat sendiri. Topinya miring. Bunda bilang itu topi koki paling bagus yang pernah ia lihat.
Bunda membuka buku resep yang sudah tua dan berdebu. Halaman bolu stroberi di buku itu penuh coretan dan lipatan. Ternyata itu resep dari nenek buyut. Jadi kue yang akan kami buat ini sudah dibuat oleh empat generasi perempuan di keluarga kami. Aku jadi merasa lebih serius.
Kami mengocok telur lebih dulu. Aku memecahkan telur pertama. Bagus! Aku memecahkan telur kedua. Bagus juga! Aku memecahkan telur ketiga... dan kulitnya ikut masuk.
Aku memandangi kulit telur yang mengapung di mangkuk dengan perasaan panik. Bunda melihatnya, lalu berkata dengan tenang, “Tidak apa-apa. Itu tambahan kriuk.” Bunda selalu punya jawaban lucu untuk semua hal. Bahkan untuk kulit telur.
Kami mengaduk adonan. Adonan itu berat sekali, seperti mengaduk pasir basah. Aku mengaduk lima putaran, lalu tanganku pegal dan aku menyerahkan pengaduk kayu itu kepada Bunda. Bunda mengaduk lima puluh putaran. Ternyata membuat kue itu sebagian besar adalah kerja Bunda, dan sebagian kecil adalah kerja tanganku.
Kami menuang adonan ke loyang. Aku memegang loyang, Bunda menuang. Kami bekerja sama dengan hati-hati, seperti dua orang yang memindahkan air penuh di dalam mangkuk.
Lalu loyang itu masuk ke dalam oven. Bunda menyalakan waktunya selama tiga puluh lima menit. Aku duduk di depan oven dan menonton lewat kacanya. Adonan itu naik pelan-pelan, seperti balon yang ditiup dari dalam.
Bunda bilang, “Jangan dibuka pintunya, nanti kuenya kempes.” Aku bilang, “Aku cuma melihat.” Bunda bilang, “Melihat pun tidak boleh.” Aku bilang, “Aku cuma mengintip.” Bunda bilang, “Mengintip itu melihat.”
Dua puluh menit kemudian, kami mulai mencium bau wangi. Baunya seperti rumah yang sedang bahagia. Aku menghirupnya dalam-dalam sampai tiga kali.
Ketika waktu itu berbunyi, Bunda membuka pintu oven dan mengeluarkan loyangnya. Kue itu... miring. Bagian kiri tinggi, bagian kanan rendah, seperti jalan di kampung. Atau seperti kue yang sedang bersandar ke satu sisi karena lelah.
Aku bilang, “Bun, kuenya miring.”
Bunda bilang, “Kuenya tidak miring. Kuenya sedang bersandar.”
Aku bilang, “Bun, kuenya beneran miring.”
Bunda bilang, “Justru bagus. Kue yang miring itu kue yang jujur. Dia tidak berpura-pura rata.”
Kami menghias kue itu. Aku menaruh stroberi. Bunda menaruh krim. Aku menaruh cokelat serut. Bunda menaruh krim lagi. Aku menaruh seluruh sisa stroberi sekaligus — semuanya, tidak disisakan satu pun — dan Bunda tertawa sampai harus duduk di lantai.
Hasilnya: kue yang miring, penuh stroberi, dengan krim di mana-mana. Termasuk di hidungku dan di siku Bunda. Ada juga krim di telinga Bunda, tapi Bunda baru sadar dua jam kemudian.
Besoknya kami membawa kue itu ke rumah nenek. Kami menaruhnya di dalam kotak, dan Bunda mengemudi dengan sangat pelan, seperti sedang mengantar kue untuk ratu. Aku memegang kotaknya di pangkuanku sepanjang jalan.
Aku deg-degan sekali. Sebenarnya aku malu. Kue itu tidak rapi sama sekali. Di toko ada banyak kue yang jauh lebih cantik, dengan bunga dari krim dan tulisan yang bagus. Kue kami seperti kue yang dibuat oleh dua orang yang tidak bisa duduk diam.
“Nek,” kataku setelah kami membuka kotaknya, “kuenya miring. Maaf ya.”
Nenek memandangi kue itu lama sekali. Ia memandanginya lebih lama daripada orang memandangi kue toko. Lalu ia menyentuh sisi yang miring itu dengan jarinya, dan tersenyum.
Ia memotong sepotong besar dan memakannya. Ia mengunyah dengan mata setengah tertutup, seperti orang yang sedang mendengarkan lagu kesukaan.
“Ini kue paling enak yang pernah Nenek makan,” kata Nenek.
Aku bilang, “Beneran?”
Nenek bilang, “Beneran. Karena kue ini dibuat oleh dua orang yang Nenek sayang, dan mereka tidak berhenti walaupun kuenya miring.”
Lalu nenek bercerita. Ternyata dulu, kue pertama yang dibuat Bunda waktu kecil juga miring. Bahkan lebih miring dari ini. Nenek masih ingat bentuknya, dan ia masih ingat rasanya. Ia bilang kue itu rasanya tidak enak, tapi ia tidak pernah memberitahu Bunda, karena Bunda sangat bangga pada kue itu.
Bunda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nenek tertawa. Aku tertawa. Adikku tertawa walaupun ia tidak tahu apa yang sedang ditertawakan.
Aku melihat ke arah Bunda. Bunda tersenyum sambil mengelap hidungku dengan tisu. Krim di hidungku sudah kering, jadi susah sekali dihapus. Bunda bilang, “Itu tanda kehormatan.” Ayah juga bilang begitu soal garis oli di pipinya.
Sampai sekarang, setiap ulang tahun nenek, kami selalu membuat kue sendiri. Dan setiap tahun, kuenya selalu sedikit miring. Kami sudah berusaha membuatnya rata, tapi tidak pernah berhasil. Sekarang kami tidak berusaha lagi. Kue yang miring itu sudah menjadi tradisi keluarga kami.
🧡 Hikmat Cerita
Seekor kue tidak pernah bisa mengukur kasih sayang. Bunda dan anaknya membuat kue yang jauh dari sempurna, tetapi nenek menyebutnya kue terenak yang pernah ia makan. Yang membuat sesuatu berharga bukan kerapiannya, melainkan siapa yang membuatnya dan untuk siapa. Kesalahan kecil pun bisa berubah menjadi tradisi yang dinanti setiap tahun.
Yang bisa kita ambil
- 1Cinta membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada sempurna.
- 2Hadiah buatan sendiri lebih berharga daripada hadiah yang dibeli, karena di dalamnya ada waktu.
- 3Kesalahan kecil tidak perlu dibesar-besarkan. Kulit telur di dalam adonan tidak merusak apa pun.
- 4Kebersamaan yang diulang setiap tahun akan menjadi kenangan paling berharga di keluarga.