Aku ingin memberi Bunda hadiah. Hadiah yang benar-benar dari aku, bukan yang dibeli. Setelah berpikir lama sekali, aku memutuskan menanam bunga.
Di sekolah, Bu Guru punya kotak berisi biji-biji kering. Aku meminta beberapa butir, dan Bu Guru bertanya, “Mau menanam apa?” Aku bilang, “Mau menanam hadiah.” Bu Guru tersenyum dan memberi aku lima biji bunga matahari kecil.
Aku membawa biji itu pulang di dalam kantong plastik. Aku juga membawa pot plastik bekas dari sekolah, yang sudah aku hias dengan stiker bintang dan tulisan “PUNYA BUNDA”.
Di rumah, aku mencari tanah di halaman belakang. Aku mengisinya ke dalam pot sampai hampir penuh, lalu aku membuat lubang kecil dengan jari, dan menanam biji-bijinya di sana. Aku menutupnya kembali dengan tanah dan menyiraminya dengan air dari gayung kecil.
Aku meletakkan pot itu di teras, di tempat yang terkena sinar matahari pagi. Aku sudah belajar di sekolah bahwa tanaman butuh matahari dan air. Jadi aku sudah punya rencana lengkap.
Hari pertama aku menyiraminya. Aku melihat ke pot itu setiap lima menit. Tidak ada apa-apa.
Aku melihat lagi sepuluh menit kemudian. Tidak ada apa-apa.
Aku melihat lagi sebelum makan siang. Tidak ada apa-apa.
Aku melihat lagi sebelum tidur. Tetap tidak ada apa-apa. Bahkan tidak ada tanda-tanda.
Hari kedua aku menyiraminya. Tidak ada apa-apa. Hari ketiga aku menyiraminya. Tidak ada apa-apa. Aku mulai kesal. Aku berkata kepada pot itu, “Ayolah, tumbuh! Aku sudah menunggumu tiga hari!” Pot itu diam saja, seperti pot yang tidak punya sopan santun.
Aku bahkan sempat menggali tanahnya dengan hati-hati untuk memeriksa apakah bijinya masih ada. Bijinya masih ada. Ia terlihat sama seperti tiga hari yang lalu. Aku menutupnya kembali sambil merasa bersalah karena sudah mengganggunya.
“Bun, sepertinya bijinya rusak,” kataku sambil duduk di samping Bunda di teras. Aku benar-benar sedih. Aku sudah membayangkan Bunda mendapat bunga yang cantik.
Bunda menaruh cangkirnya. Ia ikut duduk di lantai teras, di sampingku, dan memandangi pot itu lama sekali. Lalu ia berkata, “Bunganya tidak rusak.”
“Tapi nggak ada apa-apa, Bun.”
“Dia cuma bekerja di bawah tanah dulu,” kata Bunda. “Akarnya sedang tumbuh. Akar itu pekerja yang rajin, tapi kerjanya tidak kelihatan. Dia mencari air, mencengkeram tanah, dan menyiapkan jalan untuk batang. Kita tidak bisa melihatnya. Tapi dia sedang bekerja.”
Aku tidak percaya. Bunga tidak punya pekerjaan. Bunga itu benda. Tapi Bunda mengajakku melakukan sesuatu yang menarik.
“Ayo kita bikin tanda,” kata Bunda. Ia mengambil ranting kecil dan menancapkannya di pinggir pot sebagai patokan. “Setiap pagi kita ukur dari tanda ini. Kalau ada yang naik, kita akan tahu.”
Bunda juga memberiku buku kecil. Di buku itu aku menggambar pot, dan setiap hari aku menuliskannya: Hari 1 — tidak ada. Hari 2 — tidak ada. Hari 3 — tidak ada. Hari 4 — tidak ada.
Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku pergi ke teras sambil mengantuk. Aku melihat ke pot itu tanpa berharap apa-apa.
Ada sesuatu!
Batang kecil berwarna hijau, sebesar jarum. Ia baru muncul sedikit di atas permukaan tanah, dan di atasnya masih menempel kulit biji yang terbelah.
Aku berteriak, “BUNDAAAAA!”
Bunda berlari dari dapur dengan panci masih di tangan, mengira ada apa-apa. Ternyata hanya sebatang batang kecil setinggi kuku. Tapi Bunda tetap senang. Ia berjongkok, memandanginya lama, lalu berkata, “Nah. Akar sudah selesai bekerja. Sekarang dia bekerja di atas.”
Setelah itu, bunganya tumbuh cepat sekali. Seperti ikut balapan. Hari ketujuh muncul dua daun kecil. Hari kesembilan muncul kuncup. Hari kesebelas kuncup itu membuka, dan ada bunga kuning kecil di potku.
Bunga kuning itu tidak besar. Tidak seperti bunga di taman. Diameternya hanya sebesar uang logam, dan kelopaknya sedikit tidak rata. Tapi aku merasa seperti baru saja memenangkan piala.
Ada satu kejadian seru di hari kedelapan. Seekor ulat hijau datang dan mulai memakan salah satu daun! Aku panik dan hampir membuang ulat itu jauh-jauh.
Tapi Bunda berkata, “Ulat itu nanti jadi kupu-kupu. Dia juga sedang tumbuh, seperti bungamu.” Jadi kami memindahkan ulat itu ke daun lain di halaman, dengan hati-hati memakai ranting kecil. Dua minggu kemudian, ada kupu-kupu kecil berwarna oranye di halaman kami. Aku tidak tahu apakah itu ulat yang sama, tapi aku suka membayangkannya begitu.
Aku membawa pot itu kepada Bunda dengan dua tangan, seperti mempersembahkan piala. “Ini untuk Bunda,” kataku. “Tapi maaf, bunganya cuma satu dan kecil.”
Bunda menerima pot itu, lalu meletakkannya di meja dapur, di tempat yang paling sering Bunda lihat saat memasak. Ia bilang, “Nanti Bunda lihat ini setiap pagi, dan Bunda akan ingat bahwa akar itu selalu bekerja walaupun tidak kelihatan.”
Beberapa hari kemudian, Bunda memindahkan bunga itu ke pot yang lebih besar. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati supaya akarnya tidak rusak. Ia bilang, “Sekarang dia perlu tempat yang lebih luas.”
Sampai sekarang, bunga kuning itu masih ada di meja dapur kami. Sekarang bunganya sudah lima, dan tingginya sudah melewati jendela. Bunda menyimpan biji-bijinya di kantong kecil, dan tahun depan kami akan menanamnya lagi.
Bunda bilang, yang paling cantik tetap yang pertama. Yang kecil, yang kelopaknya tidak rata, yang muncul setelah kami hampir menyerah di hari keempat.
🧡 Hikmat Cerita
Tanaman mengajarkan sesuatu yang sulit dipercaya anak-anak: ada pekerjaan besar yang tidak terlihat. Akar tumbuh lebih dulu, jauh sebelum daun muncul. Begitu juga dengan belajar dan berlatih. Hasilnya tidak langsung kelihatan, tetapi setiap hari kita sebenarnya sedang tumbuh di bawah tanah. Berhenti di hari keempat berarti membuang semua akar yang sudah tumbuh.
Yang bisa kita ambil
- 1Semua hal yang bagus butuh waktu. Tidak ada bunga yang mekar dalam tiga hari.
- 2Kalau hasilnya belum terlihat, mungkin kamu sedang tumbuh di bagian yang tidak terlihat.
- 3Menunggu sambil mengamati jauh lebih menyenangkan daripada menunggu sambil mengeluh.
- 4Hadiah yang dibuat dengan usaha sendiri punya nilai yang tidak bisa dibeli.