🌙

Bunda, Aku Tidak Bisa Tidur

Tiga langkah sebelum tidur

🌷 Cerita Manis Bareng Bunda🎂 3–8 tahun⏱️ 6 menit🧒 Bunda dan Aku

Hari itu hari yang sangat seru. Aku ikut pesta ulang tahun temanku, aku makan dua potong kue, aku bermain lompat tali sampai keringat, dan aku menang tiga kali. Rasanya seperti seluruh tubuhku penuh dengan baterai baru.

Tapi malamnya, baterai itu tidak mau mati.

Aku berbaring di tempat tidur. Mataku terasa segar, padahal jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan. Aku berputar ke kiri. Aku berputar ke kanan. Bantalnya terasa panas. Selimutnya kusut. Kakiku ingin bergerak terus.

Aku mencoba menutup mata dengan kuat, seperti menutup pintu. Tidak berhasil. Aku malah jadi memikirkan banyak hal: tentang kue, tentang teman yang menang lompat tali, tentang besok, tentang sepatu, tentang suara aneh di atap.

Di luar ada suara jangkrik. Krik... krik... krik...

Aku mulai menghitungnya. Satu, dua, tiga, empat... Aku kehilangan hitungan di angka tujuh belas, jadi aku mulai lagi dari satu. Satu, dua, tiga... lalu aku lupa lagi.

Aku bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Di ruang tamu, Bunda sedang duduk di sofa sambil membaca. Lampu mejanya menyala kuning, dan di sampingnya ada segelas teh hangat.

“Bun, aku tidak bisa tidur,” kataku.

Bunda tidak marah. Bunda tidak berkata “ayo tidur, sudah malam”. Bunda tidak menghela napas panjang seperti yang sering dilakukan orang dewasa. Bunda hanya menutup bukunya, menyelipkan pembatas di halamannya, dan berkata, “Ayo, Bunda temani.”

Kami berjalan ke kamarku. Bunda menyalakan lampu tidur kecil, lalu mematikan lampu besar. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengelus rambutku.

“Sekarang,” katanya, “kita akan melakukan tiga hal. Kamu harus mengikuti semuanya. Kalau ada satu yang kamu lewati, langkahnya harus diulang dari awal.”

Aku mengangguk. Aku suka kalau ada aturannya.

“Yang pertama: berdoa.”

Aku mengangkat kedua tangan dan berdoa bersama Bunda. Bunda berdoa dengan suara pelan sekali, seperti sedang berbisik kepada seseorang yang sangat dekat. Doa itu pendek dan sederhana: terima kasih untuk hari ini, terima kasih untuk keluarga, mohon dijaga sampai pagi. Aku mengucapkan “aamiin” di akhir doa, pelan.

“Yang kedua: menceritakan hal baik yang terjadi hari ini.”

“Ada banyak,” kataku.

“Cukup satu,” kata Bunda. “Tapi satu yang paling bagus.”

Aku berpikir. Lalu aku bercerita tentang kucing di halaman sekolah. Kucing itu sedang berjemur, dan ia tidur terbalik dengan keempat kakinya menghadap ke langit. Aku menunggu sepuluh menit untuk melihat apakah ia bergerak, dan ia tidak bergerak sama sekali. Kakinya tetap ke atas, seperti mainan yang jatuh.

Bunda tertawa pelan. Tertawa Bunda terdengar seperti air yang mengalir. “Kucing itu namanya percaya sekali pada dunia,” katanya.

“Yang ketiga: tutup mata, lalu tarik napas panjang, dan buang pelan-pelan. Seperti meniup balon yang tidak kelihatan.”

🌙⭐🛏️
Tiga langkah kecil menuju tidur yang tenang

Aku menarik napas panjang lewat hidung, lalu membuangnya pelan lewat mulut. Bunda menghitung, “Satu... dua... tiga...”

Aku menarik napas lagi. “Satu... dua... tiga...”

Bunda tidak menyuruhku diam. Bunda tidak menyuruhku memejamkan mata lebih kuat. Bunda hanya duduk di sana, dan setiap kali aku membuang napas, ia menghitung.

Pada hitungan kesembilan, aku sudah merasa hangat dan berat. Seperti ada selimut tebal di atas tubuhku yang tidak bisa aku lihat. Pikiranku tentang kue dan sepatu itu mulai kabur, seperti tulisan yang jauh.

“Bun,” kataku dengan mata tertutup, “boleh cerita sebentar?”

Bunda bercerita tentang sebuah bintang kecil yang bertugas menjaga langit dari jam delapan sampai jam lima. Setiap malam, bintang itu harus menghitung semua bintang lain supaya tidak ada yang hilang. Tapi pada suatu malam, ia mengantuk sekali. Matanya berat. Ia mencoba mengucek matanya, tapi matanya makin berat.

“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku.

“Bintang itu tertidur,” kata Bunda. “Dan waktu ia tertidur, langit tetap aman, karena ternyata ada Bintang yang lebih besar yang menjaga dia juga.”

Ayah mengintip dari pintu. Aku mendengar langkahnya. “Belum tidur?” bisiknya.

Bunda melambaikan tangan supaya Ayah pergi, dan Ayah pergi sambil menyeringai. Aku mendengar ia menyenggol pintu pelan.

“Bun,” kataku dengan mata yang sudah sangat berat, “jangan pergi dulu ya.”

“Bunda di sini,” kata Bunda. “Bunda selalu di sini.”

Aku tertidur. Aku tidak ingat kapan tepatnya. Yang aku ingat: tangan Bunda ada di rambutku, halaman buku Bunda dibuka dengan pelan, dan suara jangkrik di luar terdengar pelan sekali, seperti lagu pengantar tidur.

Sekarang, kalau aku susah tidur, aku bisa melakukan tiga langkah itu sendiri. Aku berdoa sendiri, aku mengingat satu hal baik, aku menarik napas sendiri. Kadang aku melakukannya untuk adikku juga, kalau ia menangis malam-malam. Aku membisikkan doa dan menghitung napasnya, persis seperti yang Bunda lakukan.

🧡 Hikmat Cerita

Tidur bukan hanya soal memejamkan mata, tetapi soal menenangkan hati. Bunda mengajarkan bahwa perasaan yang berantakan perlu dibereskan dulu: dengan bersyukur, dengan mengingat hal baik, dan dengan menenangkan tubuh. Tiga langkah sederhana ini bisa dipakai kapan saja, bahkan sampai besar nanti.

Yang bisa kita ambil

  • 1Berdoa adalah cara paling tenang untuk mengakhiri hari.
  • 2Mengingat satu hal baik setiap malam membuat kita tumbuh menjadi anak yang pandai bersyukur.
  • 3Menenangkan diri itu keterampilan, dan keterampilan perlu dilatih.
  • 4Perhatian orang tua yang tenang lebih menenangkan daripada semua perintah untuk tidur.
✨ Berdoa✨ Syukur✨ Menata perasaan

💛 Pesan Kebaikan

Kalau susah tidur, coba tiga langkah Bunda: berdoa, ceritakan hal baik hari ini, lalu tarik napas panjang. Tidur yang tenang dimulai dari hati yang tenang.

🔍 Fakta Seru

Menarik napas panjang lalu membuangnya pelan-pelan bisa memperlambat detak jantung dan membuat tubuh lebih siap untuk tidur. Cara ini juga dipakai banyak orang dewasa.

🎨 Ayo Coba di Rumah

Coba tiga langkah Bunda malam ini! Sebelum tidur, ceritakan satu hal baik yang terjadi hari ini. Supaya punya cerita, carilah hal baik itu sejak pagi.