Di sebuah taman yang luas, hiduplah seekor kupu-kupu bernama Kiki. Sayapnya biru keunguan, dan ada bintik-bintik kecil seperti serbuk emas di tepinya. Kalau terkena sinar matahari, sayapnya berkilau seperti kain mahal.
Semua hewan di taman bilang Kiki cantik. Bunga matahari bilang begitu. Lebah bilang begitu. Bahkan katak yang biasanya sibuk sendiri ikut bilang begitu. Dan Kiki pun sangat percaya akan hal itu.
Setiap pagi, Kiki terbang ke genangan air di dekat batu besar. Ia terbang rendah di atas genangan itu dan memandangi pantulan dirinya. Ia menoleh ke kiri untuk melihat sayap kirinya, lalu menoleh ke kanan untuk melihat sayap kanannya. Kadang ia berputar pelan di udara supaya kilaunya terlihat dari semua sisi.
Tapi Kiki sombong.
Ia hanya mau berteman dengan hewan yang cantik. Semut? “Kecil dan hitam. Tidak mau.” Lebah? “Berdengung dan berbulu. Aku tidak mau dekat-dekat.” Kumbang? “Jelek. Jangan mendekat.” Ulat? “Ulat itu menjijikkan.”
Yang paling sering ia hindari adalah seekor kumbang bernama Kum. Kum kecil, warnanya hitam kusam, dan satu sayapnya sedikit miring karena pernah terjatuh dari daun saat masih kecil. Kalau terbang, jalannya tidak lurus, ia sedikit miring ke kanan.
Kiki bahkan pernah berkata di depan Kum, “Kalau kamu terbang, kamu terlihat seperti batu yang dilempar.”
Kum tidak marah. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Iya, aku tahu. Tapi aku tetap bisa terbang.” Lalu ia terbang pergi dengan jalannya yang miring.
Yang tidak diketahui Kiki: hewan-hewan lain sangat menyukai Kum. Bukan karena Kum cantik, tapi karena Kum selalu mau menolong siapa saja. Kum pernah mengangkat semut yang terjatuh ke dalam air. Kum pernah menunjukkan jalan kepada lebah muda yang tersesat. Kum pernah menahan daun supaya ulat kecil tidak kehujanan.
Suatu siang, Kiki terbang sambil menari-nari di udara. Ia sedang sangat senang, karena pagi itu seorang anak manusia memujinya. “Kupu-kupu cantik!” katanya, sebelum lari mengejar ibunya.
Kiki berputar-putar di udara, menikmati pujian itu. Ia tidak memperhatikan ke mana ia terbang, karena ia sedang sibuk memandangi keindahan sayapnya sendiri di genangan air.
Dan... bruk!
Sayapnya tersangkut di sebuah sarang laba-laba yang tergantung di antara dua dahan.
Kiki berusaha melepas. Ia mengepakkan sayapnya kuat-kuat. Tapi makin ia bergerak, makin lengket. Benang-benang tipis itu menempel di sayapnya, di kakinya, dan di antenanya.
Ia berusaha mundur. Ia berusaha maju. Ia berusaha terbang ke atas. Semuanya membuat benang itu makin membelit. Sayapnya yang indah sekarang penuh benang tipis berwarna putih, dan kilaunya hilang.
Kiki menangis. “Tolong! Ada yang bisa menolong saya? Tolong!”
Semut lewat di dahan di bawahnya. Kiki ingin memanggil, tapi ia ingat bahwa ia pernah berkata semut itu kecil dan hitam. Jadi ia diam saja.
Lebah lewat di dekatnya. Kiki ingin memanggil, tapi ia ingat bahwa ia pernah menjauh setiap kali lebah mendekat. Jadi ia diam saja.
Bahkan ulat yang dulu pernah ia sebut menjijikkan lewat di dahan itu. Kiki diam saja. Hatinya terasa panas, dan bukan karena matahari.
Lalu datang Kumbang Kum.
Kum tidak bertanya apa-apa. Ia tidak berkata, “Ingat tidak, dulu kamu bilang aku jelek?” Ia tidak berkata, “Sekarang rasakan.” Ia tidak menunggu Kiki minta tolong.
Kum langsung memanjat dahan dan mulai memutus benang-benang sarang itu, satu per satu, dengan kakinya yang kecil.
Butuh waktu lama. Benang sarang laba-laba itu kuat. Berkali-kali benang itu ikut membelit sayap Kum sendiri. Berkali-kali Kum hampir terjatuh. Tapi ia tidak berhenti, dan ia tidak mengeluh.
Setelah hampir setengah jam, benang terakhir terputus. Kiki bebas. Sayapnya masih utuh, walaupun sedikit lecek dan masih ada beberapa benang halus yang menempel.
Kiki menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani melihat wajah Kum. “Terima kasih, Kum,” katanya dengan suara kecil. “Aku... aku pernah bilang kamu tidak cantik. Aku pernah bilang kamu seperti batu yang dilempar.”
Kum tersenyum. Senyumnya sama seperti biasanya, tenang dan hangat. “Tidak apa-apa,” katanya. “Sayapku memang tidak berkilau. Tapi sayapku bisa menolongmu. Dan itu sudah cukup untukku.”
Kiki menangis lagi, tapi kali ini bukan karena takut. Ia menangis karena malu, dan karena ia baru menyadari sesuatu: selama ini ia sibuk memandangi sayapnya sendiri, sampai ia tidak pernah melihat bahwa ada hewan yang jauh lebih indah daripada dirinya.
Hari itu, Kiki meminta Kum mengantarnya pulang. Ia terbang pelan di samping Kum, menyesuaikan kecepatannya dengan terbang Kum yang miring ke kanan. Ia tidak mengeluh soal kecepatan. Ia tidak pindah ke jalur lain.
Sejak hari itu, Kiki tidak lagi sombong. Ia berteman dengan semua hewan di taman: semut, lebah, ulat, katak, dan tentu saja Kum. Ia masih suka memandangi genangan air, tapi sekarang ia memandanginya sambil tersenyum, bukan sambil membusungkan dada.
Dan kalau ada kupu-kupu lain yang mulai sombong, Kiki akan terbang mendekat dan bercerita tentang sebuah sarang laba-laba, dan tentang seekor kumbang yang baik hati, yang sayapnya miring ke kanan tapi hatinya lurus sekali.
🧡 Hikmat Cerita
Kiki menilai semua hewan dari penampilannya, dan ia hampir kehilangan nyawanya karena hal itu. Pertolongan datang justru dari hewan yang pernah ia hina. Kisah ini mengajarkan dua hal sekaligus: jangan sombong dengan kelebihan kita, dan jangan menilai orang lain dari penampilannya.
Yang bisa kita ambil
- 1Kecantikan bisa dilihat, tetapi kebaikan hanya bisa dirasakan.
- 2Pertolongan sering datang dari orang yang paling tidak kita duga.
- 3Menolong orang yang pernah menyakiti kita adalah bentuk kebaikan yang paling tinggi.
- 4Kesombongan membuat kita sibuk memandangi diri sendiri sampai lupa melihat sekitar.