Meong adalah kucing paling cantik di rumah kami. Bulunya putih seperti kapas, dan matanya hijau seperti daun muda. Kalau ia duduk di jendela dengan sinar matahari di belakangnya, ia terlihat seperti kucing di poster.
Meong tahu ia cantik. Ia suka duduk di tempat yang tinggi, lalu memandang kami dari atas seperti raja yang sedang mengawasi rakyatnya. Kalau kami memanggil, ia menoleh sekali, lalu pura-pura tidak dengar.
Tapi ada satu masalah besar: Meong tidak mau mandi.
Kalau melihat bak mandi mulai diisi air, Meong langsung hilang. Bukan hilang sebentar, tapi hilang benar-benar, seperti ditelan lantai.
Ia bersembunyi di bawah tempat tidur. Ia bersembunyi di belakang lemari. Ia bersembunyi di dalam kardus yang paling sempit, yang bahkan aku tidak bisa memasukkan kepalaku. Ia pernah bersembunyi di dalam keranjang cucian selama dua jam, dan kami baru menemukannya karena ekornya menjulur keluar.
Meong juara bersembunyi. Kalau ada lomba bersembunyi untuk kucing, Meong pasti menang, dan ia akan sombong sekali setelah menang.
Ayah bilang, “Kucing memang tidak suka air. Di alam, kucing menghindari air karena air membuat bulunya berat.” Jadi kesukaannya bersembunyi itu sebenarnya masuk akal. Tapi tetap saja, bulunya mulai kusut.
Bulu Meong mulai mengeras di beberapa tempat, seperti rambut yang belum disisir selama seminggu. Ada juga bagian yang menggumpal di dekat lehernya. Warnanya yang putih berubah menjadi putih abu-abu di beberapa bagian.
Dan baunya... hmm. Baunya seperti kaus kaki yang tertinggal lama di dalam tas sekolah. Aku tidak mau mengatakan itu di depan Meong, tapi baunya memang begitu.
Suatu hari, aku memberanikan diri. Aku mendekat ke arahnya dan berkata pelan, “Meong, kamu bau.”
Meong mengeong pendek, lalu berjalan pergi dengan ekor tegak lurus ke atas. Ia berjalan pelan dan santai, seperti sedang tidak peduli pada dunia. Kucing memang punya gaya yang sombong. Tapi aku melihat ekornya sedikit bergetar, dan aku yakin ia tersinggung.
Suatu sore, Meong duduk di teras. Di depan hidungnya, seekor kupu-kupu kuning terbang pelan. Kupu-kupu itu terbang rendah, lalu naik, lalu turun lagi. Seperti mengajak.
Meong tidak bisa menolak tantangan seperti itu. Matanya membesar, pupilnya melebar, dan ekornya mulai bergerak-gerak di lantai.
Ia melompat. Kupu-kupu itu menghindar dan terbang dua jengkal lebih jauh. Meong melompat lagi. Kupu-kupu itu terbang sedikit lagi.
Mereka bergerak dari teras ke halaman, dari halaman ke dekat kolam ikan. Kupu-kupu itu seperti tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia terbang lebih rendah dan lebih lambat, tepat di atas permukaan air.
Meong tidak berpikir panjang. Ia melompat...
Dan... byuur!
Meong masuk ke kolam! Airnya menyiprat ke segala arah. Kupu-kupu itu terbang naik ke atas dengan santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku berlari ke kolam. Meong sudah keluar dan berdiri di tepi, basah kuyup. Bulunya menempel ke badan, jadi badannya terlihat kecil sekali, seperti kucing yang berbeda sama sekali. Kepalanya terlihat besar, badannya terlihat kurus, dan ekornya terlihat seperti tali.
Aku hampir tertawa, tapi aku tahan. Aku sudah belajar bahwa tertawa pada kucing basah itu tidak sopan.
Tapi Meong tidak marah. Ia tidak kabur. Ia tidak mengeong kesal. Ia hanya berdiri di tepi kolam, mengibaskan tubuhnya sekali, dua kali, tiga kali, lalu ia duduk.
Dan ia mulai menjilati bulunya.
Ia menjilat kaki depannya, lalu wajahnya, lalu bahunya. Ia menjilat dengan sangat serius, seperti sedang mengerjakan tugas sekolah yang penting. Lidahnya bekerja cepat dan teratur.
Ia menjilat selama hampir satu jam. Setelah selesai, bulunya rapi kembali, lembut, dan bersih. Warnanya putih lagi, putih seperti kapas baru.
Lalu ia masuk ke kolam sekali lagi.
Aku terkejut. Aku berdiri di situ dengan mulut terbuka. Meong berdiri di dalam kolam, dengan air setinggi perutnya, dan ia memandangku seperti berkata, “Ada apa? Memang kenapa?”
Ternyata air kolam itu hangat. Seharian ia terkena sinar matahari, jadi airnya tidak dingin seperti air bak mandi. Meong baru tahu bahwa air bisa terasa nyaman, bukan menakutkan.
Sejak hari itu, Meong menjadi kucing paling rajin membersihkan diri. Ia tidak mandi memakai sabun, tentu saja. Kucing mandi dengan cara menjilati bulunya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya bersih dan wangi.
Ia sekarang menjilati bulunya setiap pagi dan setiap sore. Ia bahkan menjilati kaki adikku yang kotor, walaupun adikku tidak memintanya. Kami harus melarangnya, karena itu tidak higienis, tapi ia tetap mencoba diam-diam.
Sekarang, kalau aku mengisi bak mandi, Meong tidak bersembunyi lagi. Ia justru duduk di tepi kolam, menunggu kupu-kupu lewat. Ia mengawasi setiap kupu-kupu dengan mata yang tajam, tapi ia tidak pernah melompat lagi. Mungkin ia sudah belajar. Atau mungkin ia hanya sedang menunggu kolam yang hangat.
Dan satu hal lagi: kupu-kupu kuning itu sekarang sering datang ke halaman kami. Ia hinggap di daun, lalu terbang lagi. Aku tidak tahu apakah itu kupu-kupu yang sama, tapi kalau Meong melihatnya, ia selalu mengeong pelan. Aku suka membayangkan itu artinya, “Terima kasih sudah mengajariku.”
🧡 Hikmat Cerita
Meong menghindari air karena ia belum pernah merasakan air yang menyenangkan. Banyak hal yang kita tidak sukai ternyata hanya belum kita kenal dengan baik. Kisah ini juga mengajarkan bahwa kadang kita perlu tidak sengaja jatuh dulu untuk menemukan sesuatu yang baik bagi kita.
Yang bisa kita ambil
- 1Hal yang tidak kita sukai belum tentu buruk. Mungkin kita hanya belum menemukan cara yang tepat.
- 2Kejadian yang memalukan bisa berubah menjadi pelajaran yang berguna.
- 3Kebiasaan baik perlu dilakukan terus-menerus, bukan sekali saja.
- 4Kucing memang pandai membersihkan diri sendiri. Setiap makhluk punya cara masing-masing untuk menjaga dirinya.