Di tepi hutan ada kebun timun milik Pak Tani. Kebun itu luas, dan timunnya ditanam dalam barisan yang rapi. Timunnya hijau, gemuk, dan berair. Kalau digigit, bunyinya kres! Kres! Segar sekali. Di bawah matahari siang, timun-timun itu terlihat seperti sedang berkilau.
Di dalam hutan, hiduplah seekor kancil. Ia kecil, jalannya cepat, dan ia terkenal sebagai hewan paling cerdik di seluruh hutan. Kalau ada masalah, hewan lain selalu datang kepadanya. “Tanya Kancil saja, dia pasti punya akal.”
Masalahnya, Kancil tahu bahwa ia cerdik. Ia tahu sekali. Dan kadang, kalau kita terlalu tahu bahwa kita cerdik, kita mulai berpikir bahwa peraturan itu dibuat untuk hewan lain, bukan untuk kita.
Suatu sore, Kancil berjalan di tepi hutan dan mencium bau yang sangat menggoda. Bau timun segar. Ia mengikuti baunya sampai ke pagar kebun Pak Tani, dan dari celah pagar itu ia melihat timun-timun yang gemuk dan berair.
Kancil menelan ludahnya. “Aku bisa menanam timun sendiri,” pikirnya. Tapi menanam itu lama. Harus mencangkul, menabur bibit, menyiram setiap hari, menunggu berbulan-bulan, dan hasilnya belum tentu bagus. Sedangkan timun Pak Tani sudah ada di sana, sudah matang, dan tinggal digigit.
Jadi, malam itu, Kancil menyelinap ke kebun Pak Tani.
Ia makan sampai perutnya buncit. Ia makan tiga timun besar, dan ia bahkan menggigit satu timun hanya untuk mencoba apakah yang itu manis, lalu membuangnya karena ternyata biasa saja. Ia pulang ke sarangnya sambil bersendawa, dan tidur dengan perut penuh.
Malam berikutnya ia datang lagi. Dan malam berikutnya. Dan malam berikutnya.
Pagi-pagi Pak Tani melihat kebunnya. “Aduh! Timunku habis lagi!” Ia berjalan di antara barisan tanaman, memeriksa daun-daun yang tergigit, dan menghitung timun yang hilang. Ia memeriksa tanah, dan di tanah itu ada jejak kaki kecil. Jejak itu... mirip jejak kancil.
Pak Tani duduk di bawah pohon dan berpikir. Ia bukan orang yang suka memasang jebakan yang menyakiti. Ia hanya ingin pencuri itu berhenti. “Kalau aku menangkapnya dengan keras, ia akan kabur dan kembali lagi. Aku harus membuatnya malu,” pikirnya.
Pak Tani punya akal. Ia mengumpulkan jerami kering, lalu membuat boneka berbentuk manusia. Ia memakai baju bekasnya sendiri, dan menaruh topinya di kepala boneka itu. Lalu ia melapisi seluruh permukaan boneka itu dengan getah pohon yang sangat lengket.
Boneka itu diletakkan di tengah kebun, berdiri tegak, dengan topi Pak Tani di kepalanya. Dari jauh, ia benar-benar terlihat seperti Pak Tani yang sedang berdiri mengawasi kebunnya.
Malam itu Kancil datang lagi. Ia melompati pagar dengan ringan seperti biasa. Tapi kali ini, ia berhenti. Ada sesuatu berdiri di tengah kebun.
“Hai, siapa kamu?” tanya Kancil. “Kenapa berdiri di situ? Kenapa diam saja?”
Boneka itu tidak bergerak. Tentu saja, karena ia memang bukan makhluk hidup. Tapi Kancil belum tahu itu.
“Hei! Aku bicara denganmu! Minggir, aku mau lewat!”
Boneka itu tetap tidak bergerak. Angin bertiup, dan topinya sedikit bergeser.
“Kalau kamu tidak minggir, aku tendang kamu!”
Kancil menendang. Kakinya menempel. “Lepaskan kakiku!” Ia memukul dengan tangan. Tangannya menempel. “Lepaskan tanganku!” Ia mendorong dengan kepala. Kepalanya menempel.
Jadilah Kancil menempel pada boneka jerami: kaki, tangan, dan kepala. Posisinya seperti sedang berpelukan dengan orang yang sangat tidak dikenal. Ia tidak bisa bergerak ke depan, ke belakang, ke samping, atau ke atas. Ia hanya bisa menggerakkan ekornya, dan itu tidak membantu sama sekali.
Kancil mencoba melepaskan diri sepanjang malam. Ia menarik, ia mendorong, ia menggeliat. Getah itu makin lengket setiap kali ia bergerak. Akhirnya ia menyerah, dan ia hanya bisa berdiri di situ, menempel pada boneka Pak Tani, sambil menunggu pagi.
Sepanjang malam ia mendengar suara jangkrik dan suara angin. Ia juga mendengar suara perutnya sendiri, yang tiba-tiba terdengar sangat keras di tengah kebun yang sepi.
Pagi harinya Pak Tani datang. Ia melihat pemandangan itu, dan ia tertawa sangat keras sampai harus berpegangan pada pagar. “Hahaha! Jadi ini pencuri timunku! Kancil, kamu sedang mencuri atau sedang berpelukan?”
Kancil minta maaf. Ia minta ampun, dan ia berjanji tidak akan mencuri lagi. Ia berjanji tidak akan menyentuh kebun Pak Tani lagi. Bahkan ia berjanji tidak akan melihat ke arah kebun itu.
Pak Tani melepaskannya dengan air hangat dan sabun. Ia tidak menghukum Kancil, tidak memukulnya, tidak mengurungnya. Ia hanya berkata satu hal: “Kamu harus menanam timunmu sendiri. Aku beri kamu bijinya. Kalau kamu mau makan timun, tanamlah.”
Kancil menerima kantong kecil berisi biji timun. Ia membawanya pulang dengan perasaan yang aneh. Ia tidak malu karena ditangkap. Ia malu karena Pak Tani ternyata baik kepadanya.
Kancil menanam biji itu di dekat sarangnya. Hari-hari berikutnya, ia belajar sesuatu yang tidak pernah ia duga: menanam itu membosankan.
Setiap hari ia harus menyirami. Setiap minggu ia harus mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Ada ulat yang datang dan memakan daunnya, dan Kancil harus memindahkan ulat itu satu per satu dengan ranting. Ada juga siput yang datang. Siput itu lambat, tapi ia banyak.
Berkali-kali Kancil ingin menyerah. Ia ingin kembali ke kebun Pak Tani, karena di sana semuanya sudah siap dan tidak ada yang perlu disirami. Tapi setiap kali ia mulai berpikir begitu, ia ingat perutnya yang buncit dan wajahnya yang menempel di boneka jerami. Lalu ia menyirami tanamannya lagi.
Beberapa minggu kemudian, timun Kancil tumbuh. Hanya tiga buah, bukan tiga puluh. Warnanya hijau, gemuk, dan berair. Dan tahukah kamu? Kancil merasa timun itu jauh lebih enak daripada timun Pak Tani. Bukan karena rasanya berbeda, tapi karena timun itu hasil kerjanya sendiri.
Kancil duduk di dekat tanamannya dan memakan timun pertama dengan pelan sekali. Ia tidak menyendawakan, dan ia tidak membuang satu gigitan pun.
Sejak hari itu, Kancil punya kebun kecil di dekat sarangnya. Kalau ada hewan lain yang ingin timun, Kancil memberinya, tapi selalu dengan satu pesan: “Jangan lupa menanam bijinya ya! Jangan cuma makan!”
Dan kalau ada hewan yang bertanya kenapa ia tidak mencuri saja seperti dulu, Kancil menjawab dengan satu kalimat: “Karena aku tidak mau berpelukan dengan boneka jerami lagi.”
🧡 Hikmat Cerita
Kancil adalah hewan paling cerdik di hutan, tetapi kecerdikannya tidak berguna karena ia memakainya untuk mencuri. Hukuman yang diterimanya bukan hukuman yang menyakitkan, melainkan hukuman yang membuatnya malu dan berubah. Kisah ini juga mengajarkan bahwa hasil kerja sendiri, walaupun lebih sedikit dan lebih susah, ternyata jauh lebih memuaskan daripada hasil curian.
Yang bisa kita ambil
- 1Kepandaian itu hadiah, dan hadiah sebaiknya dipakai untuk hal yang baik.
- 2Mencuri itu selalu lebih mudah, tetapi selalu berakhir dengan masalah yang lebih besar.
- 3Jalan pintas biasanya memotong kebahagiaan yang seharusnya kita dapat di sepanjang jalan.
- 4Memberi maaf dan memberi kesempatan bisa mengubah seseorang lebih baik daripada menghukumnya.