Hari itu panas sekali. Matahari seperti lampu yang tidak bisa dimatikan. Bahkan bayangan pohon pun terasa tipis, seperti tidak sanggup menahan panasnya.
Aku pulang sekolah dengan berjalan kaki. Biasanya Ayah menjemput, tapi hari itu Ayah ada pekerjaan di luar kota. Jarak sekolah ke rumah hanya lima belas menit berjalan kaki, dan Bunda bilang tidak apa-apa selama aku berjalan di trotoar dan tidak mampir ke mana-mana.
Aku berjalan cepat sambil memegang botol minumku. Botol itu botol biru yang bisa dibuka tutupnya, dan di dalamnya tinggal separuh air. Airnya sudah hangat karena terkena panas tas.
Aku juga haus. Sangat haus. Aku sudah berlari-lari di lapangan waktu jam olahraga, dan aku berkeringat banyak. Tenggorokanku terasa kering seperti kertas.
Di depan pagar rumah, aku melihat seekor kucing.
Kucing itu kurus. Tulang punggungnya kelihatan, dan bulunya kotor serta tidak rata. Warnanya abu-abu kecokelatan, seperti warna jalanan.
Ia berbaring di bawah pohon mangga di depan rumah kami, di tanah yang keras. Mulutnya terbuka, dan lidahnya menjulur keluar. Napasnya cepat sekali. Perutnya naik dan turun dengan cepat.
Aku mendekat pelan-pelan. Biasanya kucing liar akan lari kalau ada orang mendekat. Tapi kucing ini tidak lari. Ia hanya memandangku dengan mata yang sayu, setengah tertutup. Ia terlalu lelah untuk lari.
Aku tahu ia sangat kehausan.
Aku melihat botol minumku. Airnya tinggal separuh. Aku mengguncangnya pelan, dan aku mendengar bunyi air di dalamnya. Bunyi itu terdengar sangat menyenangkan untuk tenggorokanku yang kering.
Aku berdiri di situ sambil memegang botol.
Aku berpikir: kalau aku memberikan air ini seluruhnya, aku tidak punya minuman. Rumah masih lima langkah lagi, sebenarnya. Tapi lima langkah itu terasa jauh kalau sedang haus. Dan aku tahu, kalau aku masuk ke rumah dan mengambil air untuk kucing itu, kemungkinan besar kucing itu sudah pergi saat aku keluar lagi.
Aku juga berpikir: air ini bukan air yang kotor. Ini air minumku. Aku bahkan belum meminumnya sejak keluar dari sekolah, karena aku sengaja menghematnya untuk sampai rumah.
Lalu aku melihat kucing itu lagi.
Lidahnya masih keluar. Napasnya masih cepat. Rusuknya kelihatan setiap kali ia bernapas.
Aku membuka botolku, dan aku menuang airnya ke tutup botol. Tutup botol itu kecil, ukurannya tidak lebih besar dari uang logam seribu. Airnya hampir penuh, dan aku harus berhati-hati supaya tidak tumpah.
Aku meletakkan tutup botol itu di tanah, di depan hidung kucing itu.
Kucing itu mengangkat kepalanya. Pelan sekali, seperti kepalanya berat. Ia mencium air itu. Lalu ia mulai minum.
Ia minum sampai tutup botol itu kering. Lalu ia menoleh ke arahku. Aku menuang lagi. Ia minum lagi.
Aku menuang sampai tiga tutup botol. Air di botolku sekarang tinggal sedikit sekali, mungkin tinggal seperempat.
Setelah minum yang ketiga, kucing itu duduk. Ia menjilati mulutnya, lalu memandangiku lama sekali. Matanya tidak sayu lagi. Matanya terlihat lebih hidup.
Lalu ia berdiri, berjalan ke arahku, dan menggosokkan kepalanya ke kakiku.
Ia mengulanginya tiga kali. Gesekan kepalanya ringan sekali, dan bulunya terasa kasar di kulit kakiku. Kucing itu berterima kasih dengan caranya sendiri.
Aku pulang dengan botol kosong dan tenggorokan kering. Tenggorokanku benar-benar kering, sampai terasa seperti berdebu.
Tapi anehnya, aku merasa senang sekali. Keringnya tenggorokanku seperti tidak penting lagi. Aku bahkan berjalan sambil melompat-lompat kecil, seperti orang yang baru menang lomba.
Di rumah, aku langsung mengambil air minum dan meminumnya sampai puas. Lalu aku menceritakan semuanya kepada Bunda sambil masih terengah-engah karena minum terlalu cepat.
Bunda mendengarkan sambil terus mengelap meja. Ia tidak memotong ceritaku.
Setelah aku selesai, Bunda meletakkan kainnya dan berkata, “Tahukah kamu? Ada sebuah hadis tentang seseorang yang memberi minum seekor anjing yang kehausan. Orang itu menurunkan sepatunya, mengisi sepatu itu dengan air dari sumur, lalu meminumkan anjing itu.”
“Dari sepatunya?” tanyaku.
“Dari sepatunya,” kata Bunda. “Karena itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat itu. Dan karena perbuatannya itu, Allah mengampuni dosa-dosanya.”
Aku terkejut. “Hanya karena memberi minum?”
Bunda mengangguk. “Hanya karena memberi minum. Memberi minum kepada makhluk yang kehausan itu nilainya sangat besar di sisi Allah. Bahkan kepada hewan, Nak. Apalagi kepada manusia.”
Aku duduk di kursi dan memikirkan hal itu lama sekali. Sepanjang hidupku, aku selalu berpikir bahwa perbuatan besar itu harus berupa hal yang besar: memberi banyak uang, membangun rumah, menyelamatkan orang dari kebakaran. Ternyata memberi minum seekor kucing yang kehausan pun terhitung perbuatan besar.
Sejak hari itu, aku selalu membawa botol air yang lebih banyak. Bunda membelikanku botol yang lebih besar, dan aku mengisinya penuh setiap pagi.
Dan di depan pagar rumah kami, ada sebuah mangkuk kecil dari plastik. Setiap pagi aku mengisinya dengan air bersih, dan setiap sore aku menggantinya, karena air yang lama bisa kotor.
Kucing abu-abu itu sekarang sering datang. Kadang ia datang sendiri, kadang ia membawa teman. Suatu hari ada tiga kucing minum di mangkuk itu sekaligus, dan mereka harus bergantian karena mangkuknya kecil.
Aku belum memberitahu Bunda, tapi aku sudah menabung. Kalau uangku cukup, aku mau membeli mangkuk yang lebih besar. Yang bisa dipakai tiga kucing sekaligus.
Aku tidak tahu apakah itu akan terhitung sebagai perbuatan besar juga. Tapi aku suka membayangkannya begitu.
🧡 Hikmat Cerita
Kebaikan tidak diukur dari besarnya, tetapi dari ketulusannya. Air di dalam tutup botol terlihat sangat sedikit, tetapi bagi kucing yang kehausan, itulah nyawanya. Kisah ini juga mengajarkan bahwa berbuat baik kepada hewan pun bernilai besar di sisi Allah, dan bahwa kepekaan kepada makhluk yang lemah adalah tanda hati yang masih hidup.
Yang bisa kita ambil
- 1Kebaikan tidak perlu menunggu besar. Sesuatu yang kecil bisa sangat berarti bagi yang membutuhkan.
- 2Kalau ada kesempatan berbuat baik di depan mata, jangan menundanya sampai nanti.
- 3Hewan juga makhluk Allah. Menyayangi mereka adalah bagian dari berbuat baik.
- 4Berbuat baik tidak akan membuat kita rugi. Aku kehilangan air, tapi aku mendapat perasaan yang jauh lebih menyenangkan.