Di tepi sebuah sungai, tinggalah seorang janda tua bernama Mbok Rondo. Rumahnya kecil dan sudah tua. Atapnya bocor di dua tempat kalau hujan, dan lantainya sudah tidak rata lagi.
Mbok Rondo tidak punya pekerjaan tetap. Ia mencari kayu bakar di hutan, menjualnya ke pasar, dan dengan uang itu ia membeli beras seadanya. Kadang ia hanya makan satu kali sehari, dan kadang ia makan nasi dengan garam saja.
Tapi Mbok Rondo tidak pernah mengeluh. Dan yang lebih penting, ia tidak pernah berhenti berbuat baik. Kalau ada anak kecil yang jatuh di jalan, ia yang menolong. Kalau ada tetangga yang sakit, ia yang datang membawakan air. Kalau ada orang kelelahan lewat di depan rumahnya, ia mempersilakannya duduk dan minum, walaupun air minumnya sendiri tinggal sedikit.
Suatu pagi, ketika ia sedang mencari kayu di tepi sungai, ia melihat sesuatu yang berkilau di antara batu-batu.
Ia mendekat dan mengambilnya. Ternyata sebuah keong. Tapi keong itu bukan keong biasa: cangkangnya berwarna keemasan, dan kalau terkena sinar matahari, warnanya seperti koin yang baru dibuat.
Mbok Rondo memandangi keong itu lama sekali. Ia sempat berpikir untuk menjualnya, karena keong emas pasti berharga. Dengan uangnya, ia bisa memperbaiki atap rumahnya, dan makan kenyang selama beberapa minggu.
Tapi kemudian ia berpikir lagi. “Ini makhluk hidup,” katanya. “Ia juga ingin hidup.”
Jadi ia membawa keong itu pulang dan meletakkannya di dalam tempayan air di dapur. Ia memberi keong itu beberapa daun kecil untuk dimakan. “Tinggallah di sini,” katanya. “Di sini aman.”
Malam itu ia tidur dengan perut kosong, seperti malam-malam sebelumnya.
Pagi berikutnya, Mbok Rondo bangun dan pergi ke hutan seperti biasa. Ia pulang saat matahari sudah tinggi, membawa seikat kayu bakar dan tubuh yang lelah. Ia berjalan dengan langkah berat, membayangkan harus menanak nasi dengan air saja lagi.
Ia membuka pintu rumahnya.
Dan ia berdiri mematung.
Rumahnya rapi. Sangat rapi. Lantai yang tadinya berdebu sudah disapu. Debu di meja sudah dielap. Piring-piring kotor di dalam bak sudah dicuci dan ditumpuk rapi. Bahkan atap yang bocor itu sudah ditambal dengan daun dan pelepah, walaupun tambalannya tidak rapi.
Dan di atas meja ada makanan. Nasi putih yang masih hangat, sayur bening, dan ikan asin yang digoreng. Semuanya masih berasap.
Mbok Rondo melihat ke kiri dan ke kanan. Rumah itu kosong. Ia melihat ke luar pintu. Tidak ada siapa-siapa di halaman. Ia bahkan menengok ke dalam tempayan air, dan keong emas itu masih ada di sana, diam.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya kepada udara.
Ia makan dengan perasaan aneh. Ia makan sampai kenyang, untuk pertama kalinya sejak lama. Nasi itu hangat dan pulen, dan sayurnya terasa segar.
Hari berikutnya, hal yang sama terjadi. Dan hari berikutnya juga. Mbok Rondo mulai merasa tidak nyaman. Ia bukan orang yang suka menerima tanpa tahu dari siapa.
Ia bertanya kepada tetangganya. “Apakah kamu yang menyapu rumahku?” Tetangganya geleng kepala. “Apakah kamu yang memasak untukku?” Tetangganya juga geleng kepala, dan mulai curiga Mbok Rondo sedang sakit.
Jadi Mbok Rondo menyusun rencana. Ia berpamitan seperti biasa, membawa keranjang kayunya, dan berjalan ke arah hutan. Tapi kali ini, ia tidak pergi jauh. Ia berputar di balik rumah, dan bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar. Dari situ, ia bisa melihat pintu dapurnya.
Ia menunggu. Cukup lama.
Lalu ia mendengar suara. Suara yang sangat halus, seperti kain yang bergesek. Dan dari dalam tempayan air, keluarlah sesuatu.
Seorang perempuan muda yang sangat cantik. Rambutnya panjang terurai, pakaiannya berwarna keemasan, dan wajahnya lembut. Ia keluar dari tempayan itu, mengibaskan air dari tangannya, lalu langsung mulai bekerja.
Ia menyapu lantai. Ia mengelap meja. Ia mencuci piring. Ia menanak nasi. Ia memotong sayur. Ia bekerja dengan cepat dan rapi, seperti orang yang sudah biasa bekerja. Sesekali ia tersenyum, seperti sedang senang dengan pekerjaannya.
Mbok Rondo menahan napasnya. Ia tidak bergerak, walaupun kakinya mulai kram.
Ketika perempuan itu selesai memasak, ia berjalan kembali ke tempayan. Tapi sebelum ia masuk, Mbok Rondo keluar dari persembunyiannya dan memanggil, “Tunggu!”
Perempuan itu terkejut sekali. Ia menoleh, dan tubuhnya gemetar. “Mbok...” katanya pelan.
“Siapa kamu?” tanya Mbok Rondo. “Kenapa kamu melakukan semua ini untukku?”
Perempuan itu menunduk. Ia terdiam lama sekali, seperti sedang memutuskan sesuatu. Lalu ia berkata, “Namaku Candra Kirana. Aku sebenarnya seorang putri. Aku dikutuk menjadi keong oleh orang yang iri kepadaku, lalu dibuang ke sungai.”
Mbok Rondo mendengarkan dengan mata membelalak.
“Selama di sungai, aku mendengar banyak hal,” lanjut Candra Kirana. “Aku mendengar orang-orang lewat dan bercerita. Semua orang bilang Mbok ini orang yang paling baik di kampung. Setiap orang yang kamu tolong, mereka selalu menyebut namamu.”
“Lalu kenapa kamu menolongku? Aku tidak pernah menolongmu.”
“Kamu sudah menolongku,” kata Candra Kirana. “Kamu menemukanku di sungai, dan kamu tidak menjualku. Kamu memberiku tempat tinggal, walaupun rumahmu sendiri sempit. Kamu memberiku daun untuk dimakan, walaupun kamu sendiri lapar. Bagi seseorang yang tidak punya apa-apa, itu bukan hal kecil.”
Mbok Rondo menangis. Ia memeluk Candra Kirana, yang sebenarnya baru ia kenal, tapi terasa seperti anaknya sendiri.
“Kalau begitu tinggallah di sini,” kata Mbok Rondo. “Tidak perlu masuk ke dalam keong lagi. Rumah ini memang kecil, tapi cukup untuk dua orang.”
Candra Kirana menggeleng. “Aku tidak bisa. Kutukan ini hanya bisa hilang kalau cangkang keongnya dibakar.”
Mbok Rondo terdiam. “Kalau tidak dibakar, kamu akan tetap begini?”
“Ya. Aku akan tetap harus masuk ke dalam tempayan setiap kali ada orang.”
Mbok Rondo memikirkan hal itu. Ia memikirkan rumahnya yang tetap akan rapi, dan makanannya yang selalu siap. Ia memikirkan hidupnya yang akan jauh lebih mudah.
Lalu ia berkata, “Bakar sajalah cangkangnya.”
Candra Kirana terkejut. “Tapi kalau cangkangnya dibakar, aku tidak bisa lagi mengurus rumahmu. Aku akan jadi manusia biasa. Aku harus bekerja seperti orang lain. Aku tidak bisa lagi memasak hanya dengan mengibaskan tangan.”
Mbok Rondo tersenyum. “Lebih baik punya teman yang capek bersama-sama daripada punya dapur yang selalu hangat tapi tidak ada yang bisa diajak bicara.”
Mereka membakar cangkang keong emas itu di halaman belakang, sampai menjadi abu. Asapnya berwarna keemasan dan baunya seperti bunga.
Sejak hari itu, Candra Kirana menjadi manusia biasa. Ia tetap cantik, tapi ia juga capek kalau bekerja, dan lapar kalau belum makan. Ia dan Mbok Rondo bekerja bersama-sama: mencari kayu, menjualnya ke pasar, dan mengurus rumah.
Bertahun-tahun kemudian, ada seorang pemuda tampan yang datang ke desa itu, mencari tunangannya yang hilang. Namanya Raden Inu Kertapati. Ia mencari ke seluruh negeri, dan akhirnya ia menemukan Candra Kirana sedang menyapu halaman rumah tua di tepi sungai.
Mereka menikah, dan mereka membawa Mbok Rondo ikut tinggal bersama mereka. Rumah mereka besar dan tidak bocor. Tapi Mbok Rondo tetap suka menyapu halaman sendiri setiap pagi, karena ia bilang, menyapu itu pekerjaan yang menyenangkan kalau ada teman yang mengobrol.
🧡 Hikmat Cerita
Mbok Rondo tidak menjadi baik hati supaya mendapat balasan. Ia baik hati karena memang begitu hatinya. Kebaikan yang ditanam tanpa mengharapkan apa-apa itulah yang akhirnya kembali kepadanya, bahkan lebih besar dari yang ia bayangkan. Kisah ini juga mengajarkan bahwa menolong orang lain tidak pernah membuat kita rugi.
Yang bisa kita ambil
- 1Kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih biasanya justru mendapat balasan yang paling besar.
- 2Jangan tergoda keuntungan sesaat kalau itu berarti menyakiti orang lain. Mbok Rondo tidak menjual keong itu.
- 3Persahabatan lebih berharga daripada kemudahan. Mbok Rondo memilih punya teman daripada punya dapur ajaib.
- 4Orang yang iri bisa menyakiti kita, tetapi kebaikan hati kita akan menemukan jalannya sendiri.